Pernyataan Gus Mujib soal Ibadah di Masjid hingga Salat Jumat saat Wabah

3622

Pasuruan (wartabromo.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan tegaskan tidak ada penutupan masjid atau musala untuk salat berjemaah. Ibadah salat Jumat pun boleh dilaksanakan, asalkan menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Pasuruan, Abdul Mujib Imron saat berada di Posko Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan, Kamis (16/04/2020).

Penegasan didasarkan dari musyawarah para alim ulama, yang salah satu hasil rumusan juga bisa ditinjau dalam Surat Edaran PCNU (Pimpinan Cabang Nahdhatul Ulama) Kabupaten Pasuruan Nomor 1645 tertanggal 26 Maret 2020 tentang pelaksanaan salat Jumat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Pasuruan, saya tegaskan, bahwa tidak ada penutupan masjid atau musala untuk umat islam yang ingin beribadah. Silakan tetap salat Jumat,” kata Gus Mujib, panggilan akrabnya.

Ia menyatakan, umat islam di Kabupaten Pasuruan diharapkan tetap melaksanakan salat Jumat, meski diimbau seluruh jemaah masjid menjaga diri, utamakan kebersihan, dan kesehatan.

Tak hanya kepada para jemaah, anjuran ia sampaikan kepada takmir maupun nazir masjid maupun musala untuk menyediakan alat dan perlengkapan kebersihan. Alat itu dapat berupa hand shop atau sabun cuci tangan, wastafel, hand sanitizer, hingga alat semprot disinfektan.

Terkait ibadah berjemaah ataupun salat Jumat, para camat/lurah hingga perangkat lainnya dikatakan sudah mencoba menyosialisasikan. Terutama menyangkut tata pelaksanaan salat berjemaah di tengah pandemi Covid-19.

“Para jemaah sebisa mungkin tetap memakai masker, kemudian menjaga jarak satu meter antara jemaah satu dengan lainnya. Jumatan pun harus dipencar,” ujarnya.

Gus Mujib memberikan keyakinan, jemaah akan tetap mendapatkan keutamaan salat berjemaah. Selanjutnya para takmir bisa memberi tanda pada setiap jemaah satu dengan yang lainnya.

“Sehingga bisa dihitung,” imbuhnya.

Lebih lanjut Gus Mujib juga mengimbau agar pelaksanaan salat Jumat tidak terkonsentrasi di masjid saja. Salat Jumat bisa dilaksanakan di musala/langgar, dengan jumlah jemaah mencapai 12-15 orang.

Satu hal yang kemudian diingatkan kepada para takmir adalah menggulung karpet atau sajadah yang disediakan pihak masjid, selanjutnya bisa memberikan imbauan agar jemaah membawa sajadah sendiri.

”Kalau jemaah ingin membawa sajadah sendiri, ya kami persilakan. Kalau untuk takmir, saya minta karpetnya digulung dan diharapkan sebisa mungkin sehari sekali disemprot disinfektan,” ungkap Gus Mujib.

Sementara itu, dalam pelaksanaan salat Jumat, para imam juga disarankan membaca surat wajib dan surat Al Qur’an yang pendek. Begitu selesai salat, langsung berdoa dan meninggalkan masjid/musala. Khatib pun juga begitu, diminta ringkas.

“Yang paling penting adalah melaksanakan rukun salat. Sebisa mungkin diringkas, sehingga ketika selesai salat, langsung doa dan jemaah bisa meninggalkan masjid atau musala,” ucapnya.

Terakhir, Wabup juga meminta agar warga yang sakit tidak memaksa diri salat Jumat, demi kenyamanan dan keamanan bersama.

“Kalau ada warga yang sakit, tidak perlu ke masjid untuk salat Jumat. Begitu juga kalau merasa takut tertular, boleh tidak Jumatan, diganti Zuhuran,” pungkasnya. (mil/ono)

.

.

.

.

.