Sudah Rapid Test, Pegawai RSUD Waluyo Jati Kraksaan akan Jalani Swab

3940

Kraksaan (wartabromo.com) – Rapid test pegawai RSUD Waluyo Jati Kraksaan menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, memastikan pegawai tak terjangkit virus corona (Covid-19), swab test bakal dilakukan.

Rapid test dilakukan menyusul salah satu tenaga kesehatan (nakes) rumah sakit ini positif Covid-19. Nakes tersebut tertular oleh peserta pelatihan haji Sukolilo yang dinyatakan positif lebih dulu. Semua pegawai dan nakes yang berinteraksi dengan nakes positif Covid-19, kemudian ditelusuri (tracking).

Salah satu ruang tunggu RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

“Sekitar 50 orang lebih. Jumlah daftar tracking dan berapa yang menjalani rapid test, saya tidak hafal. Mereka semua sudah ikut rapid test dan hasilnya negatif. Termasuk saya sebagai direktur sudah ikut rapid test dan hasilnya negatif,” ungkap Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan dr. Mansyur, Senin (20/4/2020).

Baca Juga :   Pembunuh Anggota Kodim Probolinggo Ditembak Mati hingga Pemkab Pasuruan Beri Warning Setelah Klaster Perusahaan Bermunculan | Koran Online 23 Juni

Meski rapid tes menyatakan negatif, pihak rumah sakit harus tetap mengikuti protokol kesehatan, sehingga dalam waktu dekat pegawai akan menjalani tes swab, untuk memastikan mereka tidak terpapar virus corona.

“Semua akan ikut tes swab untuk memastikan tidak ada virus korona dalam tubuhnya. Tes swab tetap akan dilakukan sebagai protokol kesehatan. Meski hasil rapid test-nya negatif,” terang mantan Sekretaris RSUD Waluyo Jati Kraksaan itu.

Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menutup layanan rumah sakit. Pelayanan kesehatan berjalan seperti biasa, baik itu rawat inap maupun rawat jalan.

“Kami hanya mengimbau, jika sakit gejala ringan seperti pilek dan flu untuk tidak langsung ke RSUD. Tetapi, bisa ke Puskesmas lebih dulu,” ujarnya.

Baca Juga :   Soal Aksi Teror di Sejumlah Lokasi, ini Kata Kapolres Probolinggo Kota

Selain imbauan tersebut, pihaknya meminta masyarakat yang berobat ke RSUD terbuka dan jujur tentang riwayat perjalanannya. Selain juga mengungkap interaksinya sebelum sakit.

“Ini sebagai antisipasi penularan pada para nakes. Jika tidak, kondisi itu bisa membahayakan para nakes,” tandas dokter Mansyur. (saw/saw)

.

.

.

.

.

.