Cerita dari Ruang Isolasi: Testimoni Eks Pasien Covid-19

1927

SARJONO, Kasi Kemenag PD Pontren Kabupaten Pasuruan akhirnya bisa bernapas lega. Hampir sebulan menjalani isolasi, Sarjono yang merupakan satu dari ratusan pasien Covid-19 dari klaster Bimtek Haji itu akhirnya dinyatakan sembuh.

Kepada WartaBromo.com, Sarjono sempat mengisahkan pengalamannya. Dimulai dari saat pertama kali mendengar peserta Bimtek Haji yang positif, hingga hari-harinya menjalani karantina di RSUD Bangil.

Berikut penuturan Sarjono yang terangkum dalam format tanya jawab:

WartaBromo: Waah, kelihatan sehat sekali ini Pak? Tidak seperti orang yang habis sakit?
Sarjono        : Alhamdulillah. Memang begini saya, sehat. Sejak awal saya juga tidak merasakan sakit. Saya tidak ada keluhan sama sekali. Tidak demam, batuk, ataupun sesak napas.

WartaBromo: Bagaimana ceritanya Bapak sampai terkonfirmasi Covid-19?
Sarjono        : Iya, ini pengalaman unik bagi saya. Waktu itu, saya menjadi peserta Bimtek Haji di Surabaya, tanggal 9-18 Maret. Saat itu memang sudah ada kasus positif di Indonesia. Cuma, belum ada pengetatan physical distancing. Jadi semuanya ya berjalan seperti biasa.

WartaBromo: Berapa peserta yang ikut kegiatan itu?
Sarjono        : Banyak ya… ada 400 lebih dari seluruh Jawa Timur. Dan dari Kabupaten Pasuruan, ada 14 peserta. Enam orang dari Kemenag, dan 8 orang dari Kementerian Kesehatan. Sampai kegiatan selesai, semua berjalan seperti biasa. Kami pulang dan berkumpul dengan keluarga seperti biasa, tidak ada pembatasan jarak.

Namun, situasinya mulai berubah setelah peserta Bimtek asal Kediri didapati positif dan meninggal dunia. Seketika itu juga saya berinisiatif ke Puskesmas untuk memeriksakan diri, meski waktu belum ada perintah.

Sampai pada tanggal 27 Maret, saya dihubungi untuk datang ke rumah sakit guna menjalani rapid test. Semua yang ikut Bimtek akhirnya datang ke rumah sakit.

WartaBromo: Bagaimana hasil rapid test?
Sarjono         : Sebagian dari kami diminta karantina. Ada 6 yang harus isolasi dan 8 diperbolehkan pulang. Itu tanggal 27 Maret. Tanggal 28 dan 29, kami diambil swabnya. Sampai pada tanggal 30, kami dipersilakan pulang (hingga saat itu, hasil swab belum keluar).

WartaBromo: Lalu, kapan Bapak dinyatakan positif?
Sarjono        : Jadi, tanggal 30 saya pulang dari rumah sakit. Lalu pada 1 April, kami dihubungi petugas untuk kembali datang ke rumah sakit besoknya (tanggal 2 April).

Yang menarik, sebelum Sarjono ke rumah sakit, pihaknya sempat kedatangan aparat yang menyampaikan bila dirinya positif Covid-19. Informasi yang sama juga disampaikan ke RT, RW, hingga kelurahan, dan kecamatan setempat.

“Keluarga saya langsung diminta isolasi, tidak boleh keluar rumah. Ada petugas yang mengawasi. Untuk belanja dan keperluan lainnya, diminta menghubungi RT,” kata Sarjono.

Atas informasi bahwa dirinya positif, Sarjono sempat menanyakannya kepada sang pembawa pesan. “Katanya diperintahkan Dandim untuk menyampaikan,” jelas Sarjono.

WartaBromo: Lalu, apa yang terjadi di tanggal 2 April?
Sarjono        : Saya akhirnya datang ke rumah sakit. Dan begitu tiba, saya langsung diisolasi di ruang HCU. Itu memang ruangan khusus, dinding terbuat dari kaca. Jadi kayak di aqurium begitu. Tidak boleh dijenguk.

Saya sempat protes. Karena di ruangan itu, ada juga pasien positif asal Prigen. Sementara saya kan belum tahu status saya, positif atau tidak.

Situasi itu berlangsung hingga tanggal 6 April. Karena pada tanggal tersebut saya dipindah ke ruang Teratai 8 yang ada di lantai 3. Di sini saya merasa lebih lega karena masih bisa melihat keluar.

WartaBromo: Persisnya kapan Bapak tahu positif Covid-19?
Sarjono        : Ya tanggal 7 itu. Waktu itu kebetulan ada dokter paru yang melakukan pemeriksaan. Saya tanya, proteslah karena saya diisolasi tanpa tahu status saya apa. Padahal, saya kan juga harus bisa jawab kalau pimpinan di Kemenag tanya. Jadi, ya dokter itu yang bilang bahwa saya positif.

Tapi, kalau dirunut ke belakang, bisa jadi saya sudah positif sejak tanggal 1 April itu, yang saya dihubungi untuk kembali ke rumah sakit itu.

WartaBromo: Apa yang Bapak rasakan setelah tahu positif?
Sarjono        : Saya biasa saja. Karena secara fisik, saya juga merasa sehat. Tidak ada keluhan. Saya perbanyak olahraga. Jadi, saya minta ada sesi khusus untuk saya dan teman-teman lain berolahraga.

Makanan juga begitu. Saya tidak mau makanan dari rumah sakit. Lha bagaimana, wong saya sehat. Sementara sampean tahu sendiri standar makanan rumah sakit. Jadi saya lebih banyak makan makanan dari luar. Kepiting juga.

WartaBromo: Pada akhirnya, kapan diperbolehkan pulang?
Sarjono        : Tanggal 18 April saya akhirnya diperbolehkan pulang. Itu setelah dua kali swab yang dilakukan, hasilnya negatif. Tapi, nanti tetap ke rumah sakit untuk kontrol.

WartaBromo: Apa pesan Bapak kepada kolega atau pasien positif lain yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit?
Sarjono        : Virus ini kan belum ada obatnya. Tapi, memang bisa sembuh sendiri asal imun tubuh baik. Dan imun akan baik kalau mental dan psikis kita juga baik. Jadi tetap ceria saja. Makanya, dengan teman-teman yang lain, kami ada group (WhatsApp) kan. Tiap hari kami saling berkirim konten yang lucu-lucu. Biar apa, biar tetap ceria. Karena bagaimanapun juga, diisolasi itu membosankan.

Terakhir, menutup obrolan dengan media ini, Sarjono meminta masyarakat untuk tidak panik. Juga tidak menyepelekan pandemi ini. Pihaknya kembali mengingatkan kepada masyarakat untuk disiplin, mematuhi protokol kesehatan dengan tetap menjaga jarak, membiasakan hidup bersih, rajin cuci tangan, dan senantiasa mengenakan masker. (*)