Karena Corona Bukan Sekadar Deret Angka

1982
Sebentar lagi (mungkin) akan banyak yang berputus asa. Tetapi, semoga saja tidak. Karena kita, yang berkewajiban memelihara harapan itu; harapan untuk bersama-sama melewati pandemi ini.

Asad Asnawi

SAYUP-SAYUP, suara itu mulai terdengar. Suara akan kekhawatiran akan dampak panjang dari pandemi yang berlangsung saat ini.

Bukan tanpa sebab. Belum satupun pihak yang bisa memastikan kapan situasi ini akan segera berakhir. Tak satupun. Alih-alih berakhir, angka kasusnya justru meningkat.

Di Kabupaten Pasuruan, data per Jumat (1/05/2020) jumlah kasus positif mencapai 16 orang. Sementara Orang Dalam Pemantauan – Orang Dalam Pengawasan (ODP-PDP) masing 219 & 78 orang.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, Covid-19 bukanlah sekadar deretan angka. Hari ini turun, besok naik, atau sebaliknya. Bukan sekadar itu.

Sekilas, angka-angka itu memang hanya deret statistik. Tetapi, jika saja lebih peka, angka-angka itu menyimpan deret angka yang lebih panjang.

Di balik 16 angka positif itu, ada ribuan pekerja yang dirumahkan. Dibalik 16 angka positif itu, ada ribuan anak yang tak bisa sekolah secara wajar. Dan di balik 16 angka positif itu, ada ribuan orang yang tak bisa bekerja. Atau bahkan terancam tak bisa makan.

Kita butuh lebih peka melihat angka-angka itu. Dengan begitu, kita bisa berpikir, menyusun strategi, mengambil langkah cepat agar angka-angka yang menjadi daftar panjang akibat pandemi ini tidak semakin panjang.

Sayangnya, hingga saat ini, isyarat itu belum terlihat. Pemerintah, yang pada dirinya melekat otoritas tampak belum makukan apa-apa. Padahal, kita perlu tahu.

Kita perlu tahu apa-apa yang akan dan telah dilakukan pemerintah daerah untuk meredam dampak panjang dari situasi ini. Kita perlu dipahamkan rencana apa yang disusun Pemkab merespon situasi ini.

Satu bulan sudah berlalu sejak kasus positif pertama ditemukan di Kabupaten Pasuruan awal April lalu. Nyatanya, kita belum apa-apa yang disiapkan Pemkab untuk menghadapi pandemi ini.

Satu-satunya yang terdengar nyaring adalah rencana pengadaan 2,5 juta masker. Dan, entah karena apa, “program” ini terdengar begitu nyaring ketimbang urusan makan. Padahal, saat program ini dicanangkan, sebagian warga telah mendapatkan masker itu. Dapat dari donasi orang lain. Atau sukarela membeli sendiri.

Minimnya informasi yang pasti terkait penanganan terdampak tak pelak menjadi rasan-rasan. Namanya rerasan, tentu lebih banyak tidak baiknya ketimbang hal-hal baik yang dibicarakan.

Satu hal yang ingin saya bilang. Pandemi yang terjadi saat ini membuat sebagian masyarakat kebingungan. Bingung harus bagaimana memenuhi kebutuhannya. Sementara usaha mencari jawab, juga tak tahu kemana.

Sekali lagi, karena korona memang bukan sekadar deret angka-angka…..