Punya Riwayat Sesak Napas, Perempuan asal Surabaya Meninggal di Trotoar Sekitar Gempol

3509
Petugas dengan APD bersiap melakukan pemulasaraan jenazah perempuan asal Surabaya yang meninggal di trotoar jalan raya Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Pasuruan (WartaBromo.com) – Seorang perempuan berusia hampir setengah abad, ditemukan meninggal dunia di trotoar Jl Raya Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jumat (15/05/2020). Perempuan asal Surabaya itu memiliki riwayat sesak napas, hingga penangangan diputuskan terapkan protokol kesehatan.

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan, Anang Saiful Wijaya menjelaskan, soal sesak napas perempuan berinisial PRS tersebut diungkap oleh LF (14) yang tak lain anak kandungnya.

PRS meninggal sekitar pukul 7.00 pagi, dan dilaporkan ke Polsek Gempol 3 jam kemudian.
Dari pengakuan anaknya, didapatkan informasi jika PRS memiliki riwayat sesak napas sekitar 5 bulan terakhir. Tepatnya setelah dia dan ibunya tak lagi tinggal di Surabaya.

Mendapati catatan medis tersebut, petugas memutuskan melakukan penanganan dengan cara mirip yang dilakukan terhadap pasien Covid-19. Petugas kesehatan membawa jenazah perempuan tersebut dengan mengenakan APD (alat pelindung diri).

“Karena meninggalnya sesak napas, maka untuk memastikan semuanya tertangani dengan baik, kami minta petugas kesehatan membawa jenazah ke RSUD Bangil dengan memakai APD lengkap,” katanya.

PRS tercatat sebagai warga Bulak Banteng Wetan Gang 14 A, Kelurahan Bulak Banteng, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya.  Di sana, perempuan tersebut tinggal (menumpang) bersama kakak kandungnya. Lantaran ada perselisihan dengan saudaranya, perempuan tersebut meninggalkan Surabaya dan memilih mengamen di sekitaran Gempol.

Lantaran meninggal di wilayah Gempol, proses pemulasaraan jenazah dilakukan di RSUD Bangil. Begitu pula dengan lokasi pemakamannya juga ditempatkan di pemakamam umum, tak jauh dari lokasi ditemukannya perempuan itu.

“Jenazah sudah dimakamkan setelah salat Magrib. Semuanya berjalan lancar, meski ada sedikit salah paham dengan warga sekitar. Tapi semuanya bisa dikendalikan, dan masyarakat di sekitar pemakaman juga memahaminya. Terima Kasih,” terangnya. (mil/ono)