Pasutri Difabel Belum Terima Bansos Covid-19

785

Pakuniran (wartabromo.com) – Bantuan sosial (Bansos) untuk warga terdampak pandemi corona sudah mulai disalurkan oleh pemerintah. Namun, sepasang suami istri (pasutri) difabel di Desa/Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo belum menerima bantuan itu.

Pasutri itu adalah Lukman Widiyanto (25) dan Misna (28), warga Dusun Duren RT 09 RW 03. Keduanya adalah pasutri difabel buntung kaki. Lukman buntung pada kaki kanan karena diamputasi pasca kecelakaan kerja. Sementara Misna buntung kaki kiri sejak dari lahir.
“Bantuan sosial belum ada, belum dapat bantuan. Sejak saya disini belum ada pendataan,” tutur pria kelahiran Kabupaten Kendal, Jawa Tengah itu pada wartabromo.com.

Selasa pagi, 19 Mei 2020, wartabromo.com mendatangi tempat tinggal keduanya. Rumah tembok bata berlantai semen campur tanah. Rumah itu, bukan milik pasutri tersebut, melainkan milik Nur, kakak Misna yang bekerja di Surabaya.
Misna tampak baru pulang dari mencari rumput untuk pakan sapi gaduh-nya.

Sementara, Lukman tampak membereskan boks kain tempat dagangannya. Lukman adalah pedagang aksesoris mainan anak-anak. Sebelum Covid-19, ia biasa berdagang ke sekolah-sekolah di sekitar desanya. Sehari ia mampu meraup penjualan sekitar Rp45-50 ribu. Sekitar separuh dari penjualan itu, menjadi penghasilan bersihnya.

Namun, sejak masa pandemi corona melanda, Lukman praktis tak memiliki penghasilan. Sebab, sekolah ditutup oleh pemerintah. Otomatis ladang pencahariannya habis. Meski begitu, ia tak berputus asa. Mencoba berjualan dengan keliling desa-desa di sekitar Kecamatan Pakuniran.
Tetapi sistem cek poin atau karantina desa menyulitkan gerak-geriknya. Praktis hampir 3 bulan, ia tanpa penghasilan. ” Kalau jual keliling malah tidak ada yang membeli, lain kalau dengan jual makanan, es dan lainnya.  Kalau mainan ini, harus mangkalnya di sekolahan,” kata pria yang mempersunting Misna pada Tahun 2019 tersebut.

Jika beraktivitas di luar rumah, keduanya memakai kaki palsu (prosthesis). Namun, kaki palsu Lukman, saat ini rusak sehingga ia berjalan menggunakan kruk dari alumunium. Senasib dengan kaki palsu Lukman, prosthesis Misna juga mulai rusak.

Selain dihimpit kebutuhan makan, Pasutri ini juga harus memutar otak untuk membayar cicilan modal usaha di Bank Perkreditan Mekar. Dulu ketika hendak berjualan aksesoris mainan, mereka meminjam modal sebanyak Rp2 juta dengan cicilan Rp50 ribu tiap minggu selama setahun. Saat ini, sudah memasuki cicilan 34 cicilan dari 52 pekan.

“Ya pinjem ke tetangga, biasanya ibu yang pinjem. Kalau gak dapat, ya jual yang ada, seperti beras dijual. Gak ada penghasilan, kan jualannya macet,” tutur Misna, ibu 1 anak tersebut.

Kondisi pasutri itu, cukup memprihatinkan. Tetangga yang kasihan, sering memberikan bantuan. Bahkan ada yang mengusahakan agar pasutri difabel itu, mendapat bantuan. Dengan cara mendorong pemerintah agar segera memasukkan ke dalam data penerima bantuan sosial.

“Kami berharap mendapat perhatian dari pemerintah, lebih-lebih mereka ini kan difabel. Kalau keluarga lainnya dapat, kenapa mereka tidak dapat. Dia tidak punya rumah, masih numpang di rumah mertua, ya mudah-mudahan nanti dapat,” kata M. Firdaus, tetangga yang rumahnya kebetulan cukup jauh dari pasutri difabel.

Secata terpisah, Camat Pakuniran Hari Pribadi menyebut keduanya sudah masuk dalam daftar penerima bantuan langsung tunai Dana Desa (BLT DD). “Sudah diusulkan dapat BLT DD. BLT DD untuk Desa Pakuniran memang belum cair. Silahkan cek ke Pj (penjabat) kepala desa,” tulisnya melalui pesan singkat. (saw/ono)