Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004): Lali Rupane, Eleng Rasane

1139

Review Film

Oleh: Amal Taufik

DALAM psikoanalisis, alam bawah sadar merupakan tempat manusia menyimpan segala perasaan, pikiran, kenangan, emosi, dan apa saja. Ia banyak memengaruhi perilaku manusia, hanya saja jarang disadari.

Mudahnya, saya memberi contoh ketika kita salat. Saat salat, pikiran kita sering berkelana ke mana-mana, namun mulut kita tetap lancar membaca bacaan salat tanpa lupa atau salah sedikitpun. Di situlah alam bawah sadar bekerja.

Film Eternal Sunshine of The Spotless Mind (ESOTSM) ini bermain-main di wilayah itu. Bercerita tentang kisah cinta antara Joel Barish (Jim Carrey) dan Clementine Kruczynski (Kate Winslet). Salah satu yang menyenangkan dalam film ini adalah melihat akting Jim Carrey.

Saya mengenal Jim Carrey dalam sejumlah film komedi, seperti The Mask (1994), Ace Ventura: Pet Detective (1994), dan Bruce Almighty (2003). Di sana ia berperan sebagai tokoh kocak dengan wajah sangat komikal dan sukses mengocok perut siapapun yang menonton.

Namun di film yang disutradarai Michael Gondry ini, ia sama sekali berbeda.

Tokoh Joel Barish sejak awal digambarkan sebagai pria yang murung, introvert, dan pemalu. Suasana salju yang turun di stasiun kereta, pantai, dan rumah kosong pada scene awal seakan menyampaikan pesan, bahwa kisah cinta Joel akan berwarna pucat.

Joel menjalin hubungan dengan Clementine Kruczynski yang memiliki watak berlawanan. Clementine seorang yang slengekan, labil, dan impulsif. Dengan warna rambut yang mencolok, Kate Winslet berhasil menambah citra “liar” tokoh Clementine.

Entah hubungan mereka berjalan berapa lama, lalu tiba-tiba muncul adegan Joel menemui kekasihnya itu di tempat kerjanya dan mendapati Clementine sama sekali tidak mengenalinya. Bahkan ia melihat Clementine berciuman dengan laki-laki lain.

Hati Joel rontok. Setelah itu ia curhat kepada dua sahabatnya, Rob dan Carrie. Sialnya, dari kedua sahabatnya itulah ia mengetahui fakta, bahwa Clementine ternyata telah menghapus semua ingatan tentang dirinya. Proses penghapusan itu dilakukan di Klinik Lacuna Inc.

Tak sanggup menahan patah hati dan ingin move on, Joel pun melakukan hal yang sama. Ia mendatangi Lacuna Inc dan meminta mereka menghapus semua ingatannya tentang Clementine. Proses penghapusan ingatan di kepala Joel kemudian diurus oleh Stan (Mark Ruffalo) dan Patrick (Elijah Wood).

Petugas Lacuna Inc ini langsung membikin semacam brain map di mana Joel menyimpan peristiwa kenangannya bersama Clementine, lalu mereka menekan tombol delete pada setiap titik di brain map tersebut.

Di sinilah kemudian alur film melompat-lompat menjadi dua bagian yang sama-sama berjalan linier. Pertama, adalah cerita tentang dunia faktual yang dialami Joel. Kedua, adalah peristiwa-peristiwa kenangan selama menjalin hubungan dengan Clementine.

Adegan yang paling saya sukai ada 2. Pertama, adegan yang paling romantis, yakni ketika mereka rebahan di atas Sungai Charles yang membeku. Kedua, adegan yang paling lucu, yakni ketika mereka berendam di dalam wastafel.

Ya, saat alur mulai memasuki bagian proses penghapusan ingatan, banyak bermunculan adegan surealis, seperti berendam di wastafel, hujan di dalam rumah, mobil jatuh dari langit, dan lain-lain. Itu semua terjadi di dalam pikiran Joel dan disuguhkan dengan begitu apik dan impresif.

Ketika Stan menghapus ingatan Joel, melalui alam bawah sadarnya, Joel tiba-tiba berusaha melawan upaya penghapusan ingatan itu. Ia membawa Clementine kepada kenangan-kenangan yang tak terdeteksi dalam brain map. Namun, tentu saja upaya itu sia-sia.

Lacuna Inc berhasil menghapus ingatan Joel dan Clementine. Tapi tidak dengan alam bawah sadar mereka. Perasaan-perasaan yang pernah ada masih bersemayam di alam bawah sadar masing-masing. Pada tokoh Clementine, tiba-tiba saja perasaan itu menyeruak lalu menyebabkan tindakan-tindakan impulsif.

Plot yang maju mundur dan melompat-lompat mulanya memang agak bikin bingung. Namun, saat film mulai memasuki pertengahan kita akan mulai mudah memahaminya.

Sebenarnya saya agak kecewa pada konklusi film yang terasa unsur ‘kebetulan’-nya dan terlalu berterus terang. Saya pikir meninggalkan ‘lubang’ pada bagian akhir dan membiarkan penonton penasaran dengan pertanyaan, “Are they dating again?” akan lebih bagus.  ke halaman 2