Jenuh di Rumah? Berkebun ala Bapak-Anak Tengger ini yuk

4993

Sukapura (wartabromo.com) – Jenuh dengan kegiatan belajar mengajar di rumah (Home Learning) membuat seorang guru honorer di Kabupaten Probolinggo banting setir. Bersama anaknya, mereka memilih berkebun di lahan yang sempit. Selain mampu menopang kebutuhan gizi keluarga, hasilnya juga dibagikan ke tetangga.

Dengan telaten, Sumardi warga Desa Sapi Kerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, mengangkut tanah di dekat rumahnya. Tanah itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik pengganti pot. Sebagai campuran, ia memasukkan pupuk kandang dan juga sekam di bagian atasnya.

Setelah semuanya siap, barulah bibit tanaman sayuran seperti selada air, kangkung, dan sawi mulai ditanam. Bukan ditempatkan di lahan yang luas, melainkan di teras depan rumah.

“Bercocok tanam ini, kami lakukan sejak pandemi corona berlangsung. Ya sebagai pengganti kejenuhan tidak adanya kegiatan belajar mengajar secara tatap muka,” ujar Sumardi pada Sabtu, 13 Juni 2020.

Guru honorer SDN Sariwani itu, tak sendirian. Ia dibantu oleh Bagus, anaknya yang baru duduk di kelas 7 SMPN 1 Sukapura. Penghasilan yang menurun dan lesunya perekonomian, disebutnya bisa disiasati dengan cara tersebut.

Bahkan, ia juga bisa membagi hasil panen sayur mayur hasil kebunnya, dengan tetangga sekitar yang membutuhkan.
“Selain memanfaatkan waktu luang di rumah selama masa pandemi Covid-19, kami juga tidak lagi membeli sayur mayur yang biasa dikonsumsi setiap hari. Selain itu, kelebihan panen, bisa kami bagikan pada tetangga,” ungkapnya.

Bapak-anak suku Tengger itu, tak hanya manfaatkan pot plastik sebagai media tanam. Mereka juga mengembangkan pola tanam hidroponik. Meski pengaplikasiannya belum luas, mengingat lahannya yang mereka miliki memang tidak luas.

“Meski tinggal di pedesaan, kami tidak memiliki lahan yang luas untuk bercocok tanam. Inilah sebabnya, kami mengambil tanah sebagai media tanam di bekas saluran pembuangan air yang berada di samping rumah,” tutur Sumardi.

Bagus, putra sulung Sumardi, ungkapkan sukacita karena bisa mempraktikkan secara langsung ilmu yang didapat di sekolah selama ini. “Kalau pelajaran menanam di sekolah sudah ada. Tapi hidroponik, secara langsung praktik ya sama ayah ini,” ucapnya dengan nada senang.

Sayuran yang ditanam secara hidroponik atau pun yang ditanam di dalam pot hanya butuh waktu dua bulan hingga bisa dipanen. Untuk menekan biaya perawatan, sering kali Sumardi memanfaatkan urine kelinci sebagai pengganti pupuk dan nutrisi.

Hasil panen dari bercocok tanam di lahan sempit dan hidroponik ini, diyakini bapak ini berguna selama masa pandemi Covid-19 berlangsung. (lai/saw)

Simak Videonya :