Tokoh Tengger Wanti-wanti Agar Bromo Tak Menjadi Klaster Baru Covid

1231
Keindahan Bromo di puncak B30. Foto: Sudir

Sukapura (wartabromo.com) – Rencana dibukanya kembali wisata Bromo, tinggal menunggu waktu. Tokoh masyarakat Suku Tengger berharap Bromo tidak menjadi klaster baru penyebaran virus corona di Indonesia.

“Jangan sampai menjadi klaster baru, klaster Bromo atau klaster Tengger. Itu tidak kami harapkan. Karenanya jangan tergesa-gesa untuk membuka, jika semua elemen belum siap, utamanya dalam penerapan protokol kesehatan,” kata Supoyo, salah satu tokoh masyarakat Tengger kepada wartabromo.com, Sabtu, 27 Juni 2020.

Supoyo menilai, elemen masyarakat Suku Tengger belum sepenuhnya siap dalam menjalankan protokol kesehatan. Buktinya masih banyak warga yang tidak memakai masker saat beraktivitas. Meskipun pemerintah daerah telah menggelontor ribuan masker gratis ke masyarakat.

“Masih banyak yang tidak pakai masker. Apakah mereka tidak punya? Pasti punya, minimal 1 masker, karena pemerintah daerah telah memberikan masker gratis. Cuma mereka masih enggan memakainya saat beraktivitas,” ungkap Supoyo.

Sehingga, ketidakdisiplinan masyarakat itu dikhawatirkan menjadi sumber penyebaran virus corona. Terlebih wisatawan dari berbagai daerah bakal berbaur. “Apa jadinya ketika mereka berinteraksi dengan pengunjung atau masyarakat luar Tengger. Saat ini, banyak orang sehat atau orang tanpa gejala (OTG) terpapar virus corona. Ini yang perlu diantisipasi, agar tidak membentuk klaster baru,” ucap anggota DPRD Kabupaten Probolinggo itu.

Pelaku usaha yang sudah siap menerapkan protokol kesehatan, menurut Supoyo, adalah perhotelan. Untuk jasa jip, ojek, jasa kuda, dan asongan atau suvenir perlu sosialisasi yang intensif. Termasuk standar operasional yang akan diterapkan.

“Perlu penyadaran yang lebih masif,” ujar mantan Kepala Desa Ngadisari itu.

Yadnya Kasada pada 6-7 Juli, kata Supoyo, bisa menjadi tolok ukur penerapan protokol kesehatan di kawasan Bromo. Ia juga meminta ritual tahunan itu, jangan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk mempromosikan wisata Bromo.

“Ada atau tidak ada pandemi corona, Yadnya Kasada tetap akan berlangsung. Karena adanya corona, maka hanya untuk warga Tengger saja berdasarkan rapat koordinasi,” tandasnya.

Senada dengan Supoyo, Ketua PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto, ritual Yadnya Kasada adalah budaya leluhur Suku Tengger. Ritual yang menggambarkan rasa syukur warga kepada maha pencipta dan leluhurnya. Maka sudah sepatutnya tetap dilaksanakan, meski dalam masa pandemi corona.

Berbeda dengan acara pendukungnya, semisal resepsi malam Kasada. Maupun penobatan pejabat sebagai tokoh kehormatan Suku Tengger. “Ritual tetap ada, yang lain-lain tidak dilaksanakan. Nanti sesuai protokol kesehatan,” ujarnya.

“Untuk pembukaan wisata Bromo, kami berharap semua pihak bersabar. Menunggu keputusan gugus tugas Covid-19 atau kepala daerah, tentunya keputusan yang terbaik yang akan diambil. Jangan sampai virus ini menyebar di kalangan masyarakat Tengger,” kata guru SMPN 1 Sukapura itu. (saw/ono)