Antisipasi Dampak Covid-19, Kampung Ikan Asap Budidaya Maggot BSF

1010
BINAAN PERTAGAS: Kandang Budidaya Manggot BSF di desa Penatarsewu Tanggulangin Sidoarjo ini sudah tegak berdiri.
Kampung Binaan PT Pertamina Gas

Sidoarjo (Wartabromo.com) – Kondisi pandemi Covid-19 membuat masyarakat Kampung Ikan Asap di Desa Penatarsewu, Sidoarjo berpikir kreatif. Masyarakat ini menghasilkan peluang bisnis baru. Kampung binaan PT Pertamina Gas afiliasi PT PGN Tbk dan PT Pertamina (Persero) yang terkenal dengan produksi ikan asap dan Resto Apung-nya ini, kini tengah membudidayakan maggot dari BSF (Black Soldier Fly).

Konsep zero waste (bebas sampah) dikembangkan oleh masyarakat Penatarsewu dengan memanfaatkan sisa sampah perut ikan dari hasil produksi ikan asap mereka.  “Selain itu, bisa jadi alternatif pakan ikan di tambak,” ujar Jupri Untung, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Pengolahan Sampah, Rabu (1/7).

RESTO APUNG: Tatanan kampung ikan asap dan resto apung ini bakal menjadi destinasi baru di wilayah Penatarsewu, Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo.

Selama ini, kata Jupri,  para perajin ikan asap belum optimal memanfaatkan sisa sampah perut ikan yang mereka hasilkan.  Beberapa sisa limbah sebatas dimanfaatkan untuk pakan ikan lele. Padahal, sebagian besar petambak di Desa Penatarsewu justru membudidayakan ikan mujair yang tidak bisa diberi pakan sampah sisa perut ikan. “Karena itu muncul ide untuk membudidayakan BSF, karena bisa untuk campuran pakan ikan mujair,” jelasnya.

ON PROGRESS: Kandang Budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) di Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur yang merupakan Program CSR PT Pertamina Gas Operation East Java Area.

Selain itu, limbah sisa dari Resto Apung Seba selama ini juga belum dioptimalkan. KSM Pengolahan Sampah yang sama-sama berada dibawah naungan BUMDES Sewu Barokah pun berinisiatif menggandeng kelompok pengelola resto untuk memanfaatkan sisa sampah dari Resto. “Mereka mengolah ikan juga, dan sampah organiknya bisa kita manfaatkan juga untuk budidaya maggot BSF,” paparnya.

KONSEP ZERO WASTE: Masyarakat Penatarsewu bisa memanfaatkan sisa sampah perut ikan dari hasil produksi ikan asap mereka.

Didampingi oleh Pertamina Gas dan bekerjasama dengan Komunitas Koloni BSF Jambangan dari Surabaya, KSM Pengelola Sampah yang beranggotakan 7 orang ini mulai membangun kandang budidaya BSF sejak April lalu.
Saat ini, proses pembangunan kandang telah selesai. KSM Pengelolaan Sampah Penatar Sewu optimistis pihaknya mampu berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan desa dari bisnis yang akan dikelolanya.

”InsyaAllah bisa berhasil. Biar kampung kami bebas sampah khususnya dari sisi produksi ikan,” ujarnya.

Saat ini, kandang budidaya maggot BSF yang dibangun KSM Pengelolaan Sampah mampu menampung 30 kg sampah per minggu. Bahkan, sudah ada kelompok petambak ikan mujair yang siap menyerap hasil maggot yang akan diproduksi. Yaitu Kelompok Tambak Lestari.

“Dari hasil perhitungan kami, pemanfaatan maggot BSF untuk campuran pakan ikan ini akan mengurangi biaya satu siklus panen hingga Rp 8 jutaan,” ujar Ketua BUMDes Sewu Barokah, Abdul Arif.

Di sisi lain, penjualan maggot BSF ini nanti diharapkan bisa memberi tambahan pendapatan seluruh anggota kelompok dibawah naungan BUMDes. “Kalau seminggu bisa menghasilan 30 kg maggot, kita bisa ada tambahan hingga Rp 1,8 juta sebulan,” harapnya. (day/*)