Warga Tengger Resik-resik Sampah Usai Kasada

1160

Sukapura (wartabromo.com) – Sampah menjadi problem klasik dalam pelaksanaan ritual Yadnya Kasada. Selama dua hari berturut-turut, warga membersihkan sampah tersebut. Agar kawasan konservasi alam itu, bebas dari sampah.

Warga Suku Tengger antusias mengikuti gelaran Yadnya Kasada pada 6-7 Juli 2020  tersebut. Meski tanpa ada wisatawan, namun tetap ada peningkatan aktivitas di kawasan Bromo.

Peningkatan aktivitas itu, berbanding lurus dengan jumlah sampah yang dibuang sembarangan oleh warga. Baik sampah organik maupun sampah non organik. Selain, dari sisa sesajen, sampah juga berasal dari makanan dan minuman minuman yang dibawa warga.

Sampah-sampah itu, berserakan di lautan pasir, terutama di sekitar Pure Poten Luhur Agung. Juga di bibir kawah Gunung Bromo. Tak hanya di lautan pasir dan tangga kawah Bromo saja, tetapi juga di jurang-jurang. Sehingga mengganggu ekosistem di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sejak kemarin, warga Suku Tengger bersama sejumlah relawan secara bergotong royong melaksanakan pembersihan sampah. Relawan yang terlibat ada dari Forum Sahabat Gunung (FSG), BAT (Bromo Adventure Tril), Bromo Lovers, TNI-Polri, pagyuban jip, hotel juga dari TNBTS. Mereka melakukan aksi bersih-bersih sampah di kawasan Gunung Bromo.

“Kami melakukan clean up Bromo pasca Kasada, ini adalah hari kedua, yang kemarin sudah dilakukan oleh warga Tengger dan relawan, yang bergerak duluan. Mereka membersihkan areal kawah. Hasilnya lebih banyak dari hari ini,” kata Henry Kurniawan, relawan dari FSG.

Kegiatan sosial itu, sebagai salah satu bentuk bertanggung jawab atas kebersihan dan keasrian di kawasan wisata Gunung Bromo.

“Kami berhasil mengumpulkan sampah sedikitnya 5 pikep pada hari pertama kemarin. Kali ini lebih sedikit, hanya setengahnya dari kemarin,” tambah Gondo Andono, warga Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura.

Terkait banyaknya sampah pasca Yadnya Kasada, pihak Pure Luhur Poten sebenarnya sudah meminta warga Suku Tengger untuk tidak membuang sampah sembarangan. Utamanya bungkus sesajen yang terbuat dari plastik, seperti keranjang dan kresek plastik. Warga diimbau untuk membawa pulang sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang.

“Mari kita disipilin. Tentunya pasca Kasada permasalahannya adalah sampah. Bagi masyarakat yanh ingin melakukan sesaji, sesuai dengan peraturan, perlu diingat kembali jika menggunakan plastik untuk dibawa pulang. Begitu juga jika membawa keranjang, harus dibawa pulang, seperti peraturan yang baru ini,” tutur Slamet Susandi, Ketua Pengurus Pura Luhur Poten.

Ia berharap masyarakat maupun pengunjung wisata Bromo, untuk tetap mengindahkan aturan yang diberlakukan. Agar hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia maupun dengan alam, tetap berlangsung baik dan harmonis. Dimana sampah itu, tak hanya mengotori area wisata, keberadaan sampah juga mengancam ekosistem kawasan yang saat ini kondisinya banyak menurun.

“Mohon kesadarannya kepada masyarakat agar tetap tercipta Tri Hita Karana itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus menjaga lingkungan tetap bersih, menjaga alam dan negara,” tandas Slamet.

Sampah selalu menjadi masalah tersendiri di kawasan TNBTS. Utamanya ketika libur nasional, seperti Natal dan tahun baru, hari raya idul fitri sampai libur nasional lainnya. Juga perayaan-perayaan dalam tradisi Suku Tengger. Relawan Bromo dan warga Tengger berharap, kedepan semua pihak harus sadar terhadap sampah. Minimal membuang sampah pada tempat yang disediakan. (lai/saw)