Ribuan Penerima PKH di Probolinggo Mundur

2041

Probolinggo (wartabromo.com) – Sebanyak 2.500 Keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH) di Kabupaten Probolinggo mundur dari kepesertaan program. Graduasi itu, merupakan yang tertinggi di Jawa Timur.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo, Ofie Agustin menyebut angka graduasi tersebut tercatat selama periode Januari-Juli 2020. Jumlah itu, setara dengan 14,34 persen dari total peserta Kabupaten Probolinggo sebanyak 89.889 KPM. Mereka mundur secara mandiri yang disertai dengan pernyataan bermaterai.

“Kami terus melakukan update. Graduasi mandiri itu menunjukkan, bahwa manfaat program PKH sangat dirasakan oleh peserta program. Utamanya dalam membantu menaikkan taraf ekonomi,” ujar Ofie pada Rabu, 22 Juli 2020.

Lima besar dari 24 kecamatan dengan graduasi tertinggi yakni di Kecamatan Sumberasih dengan 507 KPM. Kemudian Kecamatan Tongas dengan 240 KPM, Sukapura dengan 216 KPM, Krucil dengan 204 KPM, dan Maron dengan 196 KPM.

“KPM graduasi merupakan indikator keberhasilan PKH. Semakin banyak yang graduasi, program ini berhasil mencapai tujuan. Angka graduasi di Kabupaten Probolinggo merupakan yang tertinggi di Jawa Timur,” ungkap mantan Kepala Bidang Infokom Publik Diskominfo Kabupaten Probolinggo itu.

Koorkab PKH Kabupaten Probolinggo, Fathurrozi Amin mengungkapkan, banyaknya peserta yang mundur merupakan buah dari Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development Session (FDS). Kegiatan itu, rutin digelar setiap bulan sebelum pandemi Covid 19. Peserta wajib mengikuti P2K2 di kelompok masing-masing.

Dalam P2K2, peserta diajari cara mengasuh dan mendidik anak, merencanakan keuangan, dan memulai usaha. Termasuk kesehatan dan gizi, kesejahteraan sosial dan materi perlindungan anak. “Selama pandemi, P2K2 memang tak dilakukan untuk mencegah penyebaran,” ujarnya.

Dalam forum itu, mindset peserta diubah agar tidak tergantung dengan bantuan. Dari itulah, kesadaran berpikir peserta telah berubah. Mereka mulai malu mendapatkan bantuan, merasa ada yang lebih pantas dan layak.

“KPM yang mau graduasi, menghubungi pendamping. Selanjutnya, pendamping menindak lanjutinya dengan mendatangi rumah KPM dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” terang Rozi. (saw/ono)