Awas! Anak Rentan Alami Kebutaan Saat Belajar Di Rumah

1475

Probolinggo (wartabromo.com) – Belajar dari rumah membuat anak didik rentan mengalami kebutaan di usia dini. Komisi Mata Daerah (Komatda) Kabupaten Probolinggo pun mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan membuat kurikulum ramah anak.

Sejak pandemi corona merebak, belajar dari rumah (learning from home) diterapkan oleh pemerintah. Tak terkecuali di Kabupaten Probolinggo. Sekolah-sekolah pun masih istiqomah menerapkan belajar dari rumah sesuai anjuran.

Guru memberikan materi ajar kepada siswa secara online. Baik melalui laptop, komputer maupun ponsel pintar. Siswa kemudian mengerjakan materi ajar tersebut. Ada yang didampingi oleh orang tua, kakak, paman dan lainnya. Namun, tak jarang mereka sendirian tanpa pendamping.

Di lapangan, banyak siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di depan ponsel untuk bermain game online dan offline. Selain siswa bosan dengan materi ajar. Juga karena minimnya peran serta orang tua saat anaknya belajar. Banyak orang tua bekerja dan membiarkan anak belajar sendiri di rumah.

“Memang ini menjadi simalakama ya, efek pandemi ini tidak hanya dampak ekonomi tapi juga dampak pendidikan bagi anak-anak kita. Ini lebih pada pengawasan di keluarga, karena guru memang batasannya cuma memberikan tugas dan lainnya,” kata dr. Mirah Samiyyah, salah satu praktisi pendidikan anak.

Karenanya, ia mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo membuat kurikulum yang komprehensif. Seperti batasan jam belajar online, guru juga membantu melakukan edukasi dan motivasi. Serta kontrol orang tua pada penggunaan gadget.

“Kalau anaknya dilepas untuk pembelajaran online saja, tanpa pendampingan orang tua, ya namanya juga anak pasti lebih banyak kepada permainan gamenya. Lupa untuk belajar,” ujar wanita yang juga Ketua Komatda Kabupaten Probolinggo

Kecenderungan menghabiskan waktu di depan layar ponsel, membuat anak rentan alami kebutaan. Menyebabkan fenomena ‘Booming miopa’ atau anak terkena rabun jauh miopia (berkaca mata minus). Mereka terpapar radiasi yang dipancarkan oleh ponsel dalam waktu yang lama.

Faktor lain yang ikut mempercepat rabun jauh antara lain posisi baca, meja baca tidak memenuhi syarat dan penerangan ruangan yang kurang. Juga karena dipicu anak tidak pernah berolahraga, malas gerak (mager) sehingga kondisi ini akan makin mempercepat.

“Dampak buruknya selain kecanduan kepada gamenya, tentunya berdampak terhadap perkembangan anak, kususnya mata bahaya karena efek radiasi,” khawatirnya.

Jumlah penduduk Kabupaten Probolinggo menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 adalah 1.172.862. Sedangkan penduduk usia diatas 50 tahun mencapai 244.751.

Penduduk yang mengalami kebutaan dilihat dari prevalensi RAAB (Rapid Assessment of Avoidable Blindness) 2016 mencapai 4,4% atau 10.769 jiwa. Kebutaan akibat katarak menurut prevalensi RAAB 2016 mencapai 81% atau 8.723 jiwa.

Sedangkan kemampuan operasi katarak di rumah sakit di Kabupaten Probolinggo tahun 2019 mencapai 678. Estimasi jumlah kasus baru per tahun mencapai 20% dengan prevalensi kebutaan akibat katarak sejumlah 1.745 jiwa.

“Untuk catatan kebutaan anak, masih kita cermati. Memang angka kebutaan makin lama makin meningkat, utamanya katarak. Kita juga mencermati pembelajaran secara online pada pandemi ini. Kita harus jaga bersama-sama kesehatan mata anak, penggunaan gadget ini yang yang perlu kita jaga,” tandas dokter Mia. (saw/saw)