Viral Dugaan Fetish Kain Jarik Modus Riset Mahasiswa

7588

Surabaya (WartaBromo.com) – Sebuah utas mengenai dugaan pelecehan seksual jadi perbincangan hangat di sosial media. Utas tersebut bercerita terkait pemuda yang diduga “fetish kain jarik” dengan cara meminta korban membungkus diri seperti dikafani.

Kisah ini bermula dari sebuah utas yang ditulis pemuda berinisial MF di akun Twitternya. Ia menceritakan telah dikirimi pesan oleh seorang pemuda yang mengaku sebagai salah seorang mahasiswa tingkat akhir di Universitas di Surabaya.

“Hingga pada Jumat kemaren si anak ini, namanya Gilang, ngechat aku. Terus akhirnya nanyain no WA ke aku, sebelum aku kasih aku tanya dong, buat apa? Katane dia buat riset proyek tulisannya dia. Ya udah lah yaa, gw kasih no gw,” jelasnya.

Setelah beberapa saat, keduanya pun bertukar pesan. Gilang menjelaskan tujuannya meminta nomor handphone MF. Ia pun menceritakan sedang mengerjakan tugas akhir, dan dikejar deadline karena sudah semester 10.

“Ia bilang sedang ngadain riset tentang bungkus-membungkus. Waktu gue nanya maksudnya apa pasti dialihin gitu lah, kayak jangan nanya-nanya dulu, nanti juga bakal tau dsb,” lanjutnya.

Gilang meminta bantuan MF untuk menjadi objek bungkus-membungkus. MF harus membungkus seluruh badan dari kepala hingga mata kaki dengan kain jarik. Ia berdalih, metode bungkus-membungkus itu untuk riset emosi objek.

“Katane dia lagi bikin tulisan gitu. Nah dia bungkus-bungkus gue gitu biar gue tertekan terus ngeluarin emosi-emosi kayak nangis, cemas, gugup gitu-gitu,” kata MF.

MF pun setuju dijadikan objek riset, setelah Gilang memohon kepadanya. Untuk mempraktikan hal ini, MF tak bisa sendiri. Ia kemudian mengajak rekannya untuk membantu melakukan bungkus-membungkus ini.

Selain menggunakan jarik, metode ini juga menggunakan lakban. Jadi korban dilakban terlebih dahulu dari kaki hingga bagian atas, termasuk mulut dan mata korban. Baru kemudian dililit menggunakan kain jarik.

Korban harus menjalankan permintaan riset ini selama jangka waktu tertentu. MF mengaku Ia dibungkus selama 3 jam. Setelah itu, perilaku Gilang semakin aneh karena sempat melayangkan chat seperti menggoda. Seperti memanggil MF dengan sebutan “Ganteng” dan juga melontarkan kata-kata peluk yang katanya hanya candaan.

Namun tak berhenti sampai disitu, Gilang kemudian meminta rekan MF untuk ikut metode bungkus-membungkus ini. Kemudian di tengah proses, rekan MF mengeluhkan sesak napas. MF pun membuka bungkusan temannya dan bilang ke Gilang.

Hal ini memancing kemarahan Gilang. Ia sempat mengancam MF. Namun MF tak gentar. Ia turut mengatakan jika Gilang tak selayaknya marah karena riset ini dilakukan secara sukarela dengan prinsip tolong-menolong.

Hingga kemudian MF tersadar jika perilaku Gilang ini masuk dalam pelecehan seksual. Gilang diduga mengidap fetish kain jarik. Ia kemudian berusaha menghubungi kembali Gilang untuk menuntut penjelasan, namun tak ada balasan.

MF akhirnya bersuara dengan membuka hal ini di utas Twitter. Tak seberapa lama banyak warganet yang memenuhi kolom balasan. Tak sedikit dari mereka yang mengaku turut menjadi korban dari Gilang. Modusnya pun sama, meminta si korban turut andil dalam riset dengan bungkus membungkus ini.

Saat ini kasus tersebut telah ditangani oleh Universitas Airlangga, tempat Gilang menuntut ilmu. Dalam pernyataan resminya, Unair mengaku sudah berusaha menghubungi yang bersangkutan, namun tak ada kabar.

Unair kemudian membuka hotline untuk warga yang telah menjadi korban Gilang di nomor Help Center Universitas Airlangga 081615507016 dan email helpcenter.airlangga@gmail.com.

Kampus ini menjamin akan menjaga kerahasiaan korban, dan memberikan perlindungan serta upaya supaya korban tak trauma.

Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari Gilang, pun keluarganya terkait dugaan pelecehan seksual ini. (may/ono)