Emas Tembus Rp1 Juta, Begini Trik Investasinya

1371

Pasuruan (Wartabromo.com) – Beberapa waktu lalu, harga emas Antam tembus Rp1,02 juta per gram. Cukup mengejutkan memang, pasalnya harga tersebut disebut-sebut merupakan hatga tertinggi sepanjang sejarah.

Kenaikan yang cukup tinggi itu, membuat emas banyak dilirik sebagai instrumen investasi. Tapi, sebelum memutuskan menempatkan dana pada emas, sebaiknya simak tips berikut.

1. Jangka waktu panjang

“Kalau tujuannya untuk mendapatkan keuntungan cepat, ini bukan waktunya karena harganya sudah cukup tinggi,” tutur Eko Endarto, Perencana Keuangan dari Finansial Consulting, dinukil dari CNN Indonesia.

Meski demikian, Eko menyebut tak ada salahnya untuk mulai investasi emas saat ini. Hanya saja, investasi emas bukan untuk jangka pendek. Ada baiknya ditujukan untuk jangka menengah hingga panjang.

Sekadar diketahui, jangka waktu pendek adalah investasi di bawah satu tahun. Lalu, lebih dari satu tahun berarti jangka menengah. Sementara di atas lima tahun disebut investasi jangka panjang.

2. Membeli bertahap

Saat memutuskan emas menjadi aset investasi, pastikan membelinya secara bertahap. Pastinya, dengan tetap memperhatikan pergerakan harga logam mulia.

Investor dapat menambah kepemilikan emas saat harga logan mulia tersebut turun. Jika harga sedang naik, simpan saja dalam bentuk uang tunai.

3. Prediksi harga emas

Emas merupakan aset safe haven atau aman. Pasalnya, emas memiliki tingkat risiko rendah. Harga emas cenderung naik ketika terjadi ketidakpastian global. Seperti kondisi saat ini (Pandemi Covid-19).

Selain itu, harga emas juga berpotensi naik ketika terjadi guncangan ekonomi. Hak tersebut terjadi lantaran investor memburu aset aman untuk melindungi investasinya.

4. Diversifikasi instrumen

Diversifikasi investasi perlu dilakukan. Tujuannya, sebagai cadangan apabila ada penurunan di salah satu instrumen investasi. Dengan demikian, investor masih memiliki aset lainnya.

Pilihan investasi dapat disesuaikan dengan profil risiko investor. Instrumen yang memiliki risiko rendah atau konservatif, disarankan menempatkan modalnya pada Surat Berharga Negara (SBN). Pasalnya, SBN memiliki underlying investasi (aset dasar) dijamin negara.

Sedangkan jika ingin risiko sedang, bisa memilih reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap. Modal keduanya ditempatkan pada pada instrumen pasar uang seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, dan obligasi yang jatuh tempo di bawah satu tahun.

Sementara itu, untuk investor dengan kecenderungan risiko tinggi, disarankan menempatkan dana di reksa dana saham maupun investasi langsung kepada saham. (bel/may)