Bosan di Rumah, Eks Bidan Kembangkan Stroberi Hidroponik di Dataran Rendah

17910
“Pandemi Corona membuat banyak orang bosan di rumah saja. Untuk menghilangkan kebosanan, seorang mantan bidan mengembangkan buah stroberi dengan metode tanam hidroponik. Selain stroberi, ada juga aneka sayuran. Hasil panen tak dinikmati sendiri, melainkan dibagikan ke tetangga sekitar rumah. Sebagai sumber gizi dan vitamin penambahan imun tubuh di masa pandemi corona.”

Laporan: S. Adi Wardhana, Probolinggo

SUASANA sejuk menyambut wartabromo.com saat berkunjung ke rumah mungil di Jalan Kiai Damarjati, Dusun Krajan, Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Halamannya tak seberapa luas, namun sangat rindang dengan tanaman kelengkeng. Setidaknya ada 4 jenis kelengkeng tumbuh subur dan berbunga di samping rumah.

Namun, kedatangan wartabromo.com kali ini, tak fokus pada buah putih bertekstur kenyal dengan rasa manis itu. Melainkan pada ranumnya stroberi hidroponik lewat gambar yang dikirim rekan ke wartabromo.com. Dikembangkan oleh Auliya Ulhusna (31) bersama Taufan Angga Dewantara (33), suaminya.

Wanita berjilbab itu menuturkan, ia dan Angga menempati rumah mungil di RT 11 RW 04 Dusun Krajan itu, sejak 2016 lalu. Rumah baru yang minim tanaman, terlihat tak nyaman dan gersang. Oleh karenanya, bersama suaminya mulai menanam pohon klengkeng dan juga aneka bunga-bunga. Tak ketinggalan beternak kambing juga burung murai dan loverbird untuk menambah keramaian.

“Saya suka nanam apa saja. Saat awal pandemi corona, saya nggak bisa kemana-mana, mau nengok orangtua juga gak bisa karena gak ada bis yang beroperasi. Di rumah saja ya bosan akhirnya. Kemudian suami punya ide untuk memanfaatkan kandang kambing yang gak terpakai,” tutur Auliya mengawali cerita.

Pada awal pandemi corona, Angga memakai sebagian bekas kandang kambing sebagai instalasi hidroponik. Dari panjang 10 meter dan lebar 3, hanya 4 meter yang dipakai, menyesuaikan dengan panjang pipa paralon ukuran 3 inci.

Bermodal duit Rp2 juta, pasutri muda itu berbelanja tetek bengek infrastruktur hidroponik. Seperti pipa paralon, pompa aquarium, media tanam dan lainnya. Pipa ini kemudian di pola sesuai dengan keinginan. Hingga jadilah lahan hidroponik dengan ukuran 3×4 meter di utara rumah.

“Dikerjakan sendiri oleh suami. Belajar dari tutorial yang ada di youtube. Meski kami senang bercocok tanam, sebenarnya basis keilmuan kami gak nyambung. Suami ahli gizi dan saya kebidanan. Ya hanya karena hobi saja yang membuat kami berani bereksperimen,” terang mantan bidan Puskesmas Pakuniran itu.

Sebagai uji coba, mereka menanam sayur sawi, kangkung dan selada. Ternyata sebulan ditanam, hasilnya bagus. Tanaman non pestisida pabrikan tersebut, lantas dibagikan kepada tetangga sekitar rumah. Menyuplai asupan gizi dan vitamin yang dibutuhkan untuk melawan virus corona.

Sukses dengan percobaannya, Angga mulai tergelitik untuk mengembangkan buah stroberi melalui sistem hidroponik. Selain itu, stroberi dikenal sebagai tanaman yang berkembang baik di dataran tinggi. Sementara lokasi rumah pasutri ini, elevasi tanahnya hanya 3 meter dari permukaan laut.

“Dari beberapa tutorial di medsos, kebanyakan stroberi ditanam pada media tanah atau di pot, bukan di media air. Ini menjadi tantangan bagi saya, dengan menanam stroberi hidroponik di dataran rendah,” sambung Angga dengan penuh semangat.

Angga kemudian menghubungi rekannya di Sukapura yang lebih dulu mengembangbiakkan stroberi di wilayah dingin. Benih yang didapat dari temannya tersebut, lantas ditanam. Ternyata sroberi yang ditanam mati membusuk.

Kecewa dan penasaran berkecamuk di benak Auliya. Dikira karena perbedaan cuaca antara asal benih dengan lokasi tanam. Setelah ditelaah, penyebab kematian stroberi hidroponik itu karena jelas plastik yang dipakai tidak dilubangi. Sehingga alat dan batang stroberi membusuk.

“Ya membusuk, kemudian kami coba lagi dengan melubangi gelas plastik yang dipakai,. Alhamdulillah, tumbuhnya bagus dan bisa berbuah, meski buahnya ukurannya lebih kecil. Namun, disini gak ada kecut-kecutnya, manis,” kata wanita berusia 31 tahun itu, sambil tersenyum.

Lagi-lagi buah itu, dibagikan ke tetangga sekitar. Ya dari beberapa sayuran yang ditanam, semisal kangkung, sawi, pakcoy (sawi sendok), hanya selada yang dijual. Itupun karena warga setempat, belum familiar menggunakannya dalam masakan. Sayuran yang sering digunakan sebagai garis itu, dijual Rp25 ribu per kilogram.