Berkah Bertani Tomeo, Sayur Mahal dengan Perawatan Mudah

2793
Sugiono saat panen sayur tomeo. Foto: Fs Fahmi.
“Saya senengnya untuk ngangkat ekonominya masyarakat Ranu Pani. Kalau kemarau kan biasanya gak ada kerjaan, nah ini jadi ada kerjaan. Ada 40-50 buruh tani yang membantu di lahan tomeo ini.”

Laporan: Maya Rahma, Fs. Fahmi

HAWA dingin langsung menyergap saat memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Setelah melewati hutan, hamparan sawah hijau turut memanjakan mata. Di samping ada 2 ranu yang berjajar.

Satu kata yang mewakili keindahan mata ini. Asri. Kawasan Ranu Pani memang terkenal memiliki tanah yang subur. Hasil pertaniannya pun juga berkualitas. Seperti kentang, bawang prei, tomat dan berbagai tanaman lainnya.

Ada satu tanaman yang tak banyak orang tahu, tapi bisa menghidupi warga sekitar. Sebut saja sayur tomeo. Tak banyak orang tahu jenis sayur ini. Hanya kalangan tertentu saja.

Sugiono (45), petani tomeo asal Ranu Pani mengungkap, biasanya sayuran ini jadi sajian di hotel berbintang atau restaurant besar. Karuan saja harga per kilogramnya juga cukup merogoh kocek.

Pria ini jadi satu-satunya petani yang lahannya ditanami tomeo. Keisengan Sugiono membawa berkah bagi keluarga dan warga sekitar.

“Pada awalnya ada juragan kuali (pedagang besar) datang, tahun 2005 menawari untuk menanam tomeo ini,” ceritanya kepada wartabromo.com.

Tak seperti petani lain yang harus berpikir panjang, saat itu Sugiono langsung mengiyakan permintaan pedagang besar dari Taiwan ini. Kata Sugiono, saat itu pedagang ini memang berniat untuk keliling mencari petani yang mau menanam tomeo. Tentunya di daerah-daerah dataran tinggi dengan kriteria tanah dan suhu tertentu yang cocok ditanami.

“Tidak semua daerah bisa menanam tanaman ini. Yang bisa hanya di Ranu Pani saja. Sejauh ini saya belum menemukan daerah (di Lumajang, red) yang bisa menanam tomeo ini,” lanjutnya.

Sistem yang diberikan juga memudahkan. Pedagang tersebut mengirim bibit dari Taiwan pada Sugiono. Ia tinggal menanam pada lahannya.

Tak semua musim bisa ditanami tomeo. Hanya saat musim kemarau dengan periode mulai bulan Mei-September untuk masa tanam hingga panen. Sekali tanam, membutuhkan masa setidaknya 50 hari. Hasilnya pun memuaskan. Tomeo yang dihasilkan di Ranu Pani berkualitas super.

“Sekarang sekitar ada 4 hektar. Kalau dihitung-hitung semuanya satu kali panen 2 ton. Kalau bagus, 10-15x panen,” tambah Sugiono.

Pria dengan 3 anak ini mengungkapkan, sempat menawarkan untuk pengembangan bibit tomeo kepada saudagar asal Taiwan tersebut. Namun mendapat penolakan. Meski begitu, Sugiono tak berkecil hati. Sebab, dengan sistem seperti ini, Ia dan warga sekitar sudah bisa menuai hasil.

“Saya senengnya untuk ngangkat ekonominya masyarakat Ranu Pani. Kalau kemarau kan biasanya gak ada kerjaan, nah ini jadi ada kerjaan. Ada 40-50 buruh tani yang membantu di lahan ini,” terangnya.

Perawatannya pun sangat mudah. Sugiono hanya terkendala kabut yang bisa memunculkan bintik-bintik pada daun. Sementara ulat juga jarang. Kendala ini hanya membutuhkan untuk disemprot layaknya pengusiran hama lainnya.

Dengan perawatan mudah ini, tomeo Sugiono dihargai Rp20 ribu per kilogram. Ia juga tak perlu mencari pasar sendiri, karena sudah ada yang menampung.

“Setelah panen, langsung dikirim ke gudang besar di Singosari, Malang. Saya lepas sudah karena sudah selesai kewajibannya,” ujar Sugiono.

Pria asli Ranu Pani itu berharap, Pemkab Lumajang bisa terbuka dengan adanya potensi ini. Khususnya soal pemasaran. Sebab, tanaman tomeo tersebut sangat menjanjikan. Namun tak banyak pasar yang bisa digaet.

“Kendalanya di sini gak ada pasarnya. Kalau ada pasarnya mungkin bisa bibit sendiri. Karena ini tanamannya tidak terlalu rumit perawatannya, tapi harganya mahal,” harapnya. (*)