Pilwali 2020, Bapaslon Ditantang Buka-bukaan soal Ijazah

1483

Pasuruan (WartaBromo.com) – Pergunjingan soal latar belakang pendidikan bakal pasangan calon (bapaslon) wali kota dan wakil wali kota yang akan bertarung dalam pilwali Kota Pasuruan terus mengemuka. Sejumlah pihak pun menginginkan kedua pasangan membuka riwayat pendidikannya.

Suara mirip tantangan itu di antaranya diungkapkan penggiat sosial yang tergabung dalam sejumlah organisasi non government organization (NGO) di Pasuruan Raya.

Disebutkan, bapaslon wali kota dan wakil wali kota yang akan bertarung dalam gelanggang pilwali Kota Pasuruan sepatutnya membuka riwayat pendidikan.
Lujeng Sudarto, Ketua Lembaga Bantuan Hukum Pijakan Rakyat Nusantara (LBH Pijar) menegaskan, cara itu juga bagian dari memberikan pendidikan politik yang baik.

Masyarakat dinilai telah cukup mampu melihat perkembangan pilwali Kota Pasuruan yang saat ini sudah mengarah pada rivalitas yang terbilang tidak cukup sehat.

“Jangan sampai proses demokrasi ini tidak sehat, saya kira warga tidak perlu disuguhi hoax. Bapaslon yang dianggap tidak sah atau tidak memiliki ijazah. Nah itu ramai, sehingga atmosfer pilwali tidak sehat sekarang,”,” tandas Lujeng Sudarto saat berada di Taman Kota Pasuruan, Rabu (16/9/2020).

Diungkapkan Lujeng, beberapa hari terakhir, terkait ijazah calon wali kota dan wakil wali kota, salah satunya di media sosial cukup hangat menjadi perbincangan.

“Saya tantang dua bapaslon, baik dari Saifullah Yusuf – Adi Wibowo ataupun Raharto Teno Prasetyo – Moch Hasjim Asjari bisa membuka data dan riwayat pendidikan mereka masing – masing. Sekolah di mana bisa ditunjukkan,” tegasnya.

Dengan membuka riwayat pendidikan, kedua bapaslon dianggap mampu meredam polemik hingga tak menjadi fitnah. “Masing-masing bisa melakukan pembuktian terbalik. Biar masyarakat ini tidak memilih kucing dalam karung. Masyarakat bisa memilih realitas dan fakta yang dimiliki masing-masing calon,” ungkapnya.

Dilanjutkan, bapaslon perlu memanfaatkan ruang publik, baik media massa atau lainnya, menyampaikan fakta maupun background pendidikan.

“Kami tunggu secepatnya. Kami tantang mereka untuk membuka riwayat pendidikan mereka masing – masing,” kata Lujeng

Tantangan baik kepada pasangan Teno – Hasjim atau Gus Ipul – Mas Adi adalah sebagian bentuk keterbukaan dan sikap kejujuran dalam politik. Totok A Rachman, penggiat dari Pasuruan Demokrasi Watch (PasDewa), malah mempertanyakan keaslian ijazah dari masing – masing bapaslon wali kota dan wakil wali kota saat ini.

Jangan sampai, proses demokrasi yang menghabiskan anggaran besar ini, justru teranulir karena ijazahnya wali kota dan wakil wali kota terpilih tidak sah atau palsu. Saya minta bapaslon berani membuka riwayat pendidikan mereka ke publik sebagai bentuk keterbukaan,” ungkap Totok.

Menurutnya, bapaslon tidak harus menunggu hasil verifikasi dari KPU atau Bawaslu. Ia menegaskan, jika hal ini bukan sebagai bentuk rasa tidak percaya dengan lembaga penyelenggara pemilu. “Tapi perlu ada keberanian para calon untuk mengakui dan menyampaikan ke publik. Saya tunggu, kesadaran dan keberanian atau gentle dari masing – masing calon ini,” imbuhnya.

Dengan membuka diri, kedua bapaslon terlihat menjadi lebih elok bertarung merebut kursi nomor satu di Kota Pasuruan.

“Ini memilih calon pemimpin untuk lima tahun ke depan. Jangan sampai masyarakat atau pemilik hak suara disuguhi dengan kepentingan yang tidak jelas dan mengaburkan fakta yang ada,” tambah Sugito, perwakilan dari Pus@ka.

Sebelumnya, ijazah sarjana bodong milik para calon sempat jadi perbincangan dan mengemuka di media sosial, seperti grup-grup WhatsApp Kota Pasuruan. Ada calon wali kota dan wakil wali kota yang dituding tidak memiliki ijazah sarjana, yang malah menggunakan titel sarjana. (man/ono)