Melacak Jejak Semaun di Pasuruan, Ketua Pertama PKI (1)

9927
BERGELAR DOKTOR: Makam Semaun dan istrinya, Valentina di Gununggangsir, Beji, Kabupaten Pasuruan. Foto: Miftahul Ulum.

 

Sebagai ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) pertama, yang kala itu masih bernama Perserikatan Komunis Hindia, sosok Semaun menyimpan sisi lain yang belum banyak terungkap. Terutama di akhir masa hidupnya setelah lama bermukim di luar negeri.

Oleh: Miftahul Ulum

JALAN hidup Semaun bisa dibilang unik. Tercatat sebagai ketua pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kala itu masih bernama Perserikatan Komunis Indonesia (PKI), tokoh asal Pasuruan ini justru lolos dari lubang ketika pemerintah memburu orang-orang yang ‘dicap’ sebagai pengikut PKI.

Berangkat dari itulah, WartaBromo.com berusaha menelusuri lebih jauh secuil kisah Semaun yang belum banyak terungkap itu. Termasuk, keberadaan makam Semaun di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Tidak sulit untuk menemukan area makam yang di dalamnya disebut terdapat kuburan Semaun itu. Dari perempatan Gununggangsir, jaraknya sekitar 200 meter ke arah barat. Sebuah gapura bercat hijau dengan arsitektur kolonial bisa menjadi penandanya.

Makam Semaun berada satu area dengan makam keluarga R. Prawiroadmodjo. Berkijing porslen, kuburan Semaun terbilang unik lantaran di bagian kepala hanya tertanam satu nisan. Sementara di sisi kaki terdapat dua batu nisan dengan tulisan berbeda di bagian bawahnya. “Dr. Semaun” di sebelah kanan dan Ny. Valentina Semaun dI sebelah kiri.

Pertanyaannya, benarkah makam tersebut adalah makam Semaun yang ketua PKI pertama itu?

Dalam artikel Ensikplopedia Kemendikbud, disebutkan bahwa Semaun dikebumikan di Gunungpasir, Jawa Timur. Kuat dugaan penulisan Gunungpasir yang dimaksud adalah Gununggangsir lantaran di provinsi ujung timur Pulau Jawa ini tak ada nama desa tersebut.

Dugaan itu diperkuat dengan penuturan Mudji, perempuan kelahiran Agustus 1945, yang tinggal di Gununggangsir.

Dikatakannya, Semaun merupakan penduduk Gununggangsir. “Dulu disitu rumahnya,” katanya sembari menunjuk bangunan di seberang jalan yang telah berubah menjadi minimarket itu.

Semaun lahir dari keluarga terpandang. Raden Prawiroatmodjo, ayahnya merupakan kaum ningrat. “Wong dulu kami kalau mau bertamu saja harus ngesot kalau menghadap beliau. Bener itu makamnya Raden Semaun,” kata perempuan 79 tahun ini sembari memeragakannya.

GANTI PEMILIK: Minimarket di Gununggangsir yang menempati bekas rumah Semaun. Foto: Miftahul Ulum.

Cerita Mudji, minimarket di seberang rumahnya itu, dulunya adalah kediaman Semaun dan orang tuanya. Namun, kemudian dijual oleh keluarganya. “Sama ahli warisnya sudah dijual,” timpal Lastari, warga Gununggangsir lainnya.

Lastari yang kini berusia 76 tahun ini mengatakan, pasca pengasingannya dari Belanda dan melanglang buana ke berbagai negara, termasuk Uni Soviet (Rusia saat ini), Semaun kembali pulang ke Gununggangsir. Itu terjadi pada 1956.

Selama di Gununggangsir, Semaun banyak bercerita perihal pengalamannya selama di Belanda hingga di Rusia. “Pak Semaun cerita, ketika dia di Inggris, dia ditangkap, lalu akan ditembak, tapi ia berhasil lolos seperti dibawa angin,” ungkap Lastari sembari menirukan gaya Semaun bercerita.

Edi Tjahyono dalam Penebar E-News (September 2003) tentang kepulangan Semaun ke Indonesia, menyebutkan bahwa Semaun pulang ke Indonesia atas inisiatif Iwa Koesoema Soemantri (Rektor Unpad) yang juga alumni Sarjana Hukum di Belanda.

Menurut Edi, Iwa K. Soemantri juga saudara ipar Semaun. Keduanya menikahi kakak-beradik yang bekerja di Comintern. Perempuan yang dimaksud adalah Valentina yang abu jenazahnya ikut dimakamkan di Gununggangsir.

Tentang kepulangan Semaun, Bonnie Triyana dalam atikelnya berjudul Semaun dan Sneevliet, Kisah Persahabatan Dua Orang Revolusioner, menyebutkan bahwa “Semaun meminta bantuan Sukarno ketika berkunjung kali pertama ke Moskow pada Agustus-September 1956. Sukarno lalu meneruskan permintaannya kepada Marsekal Barsilov, pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet. Akhirnya, Semaun bisa pulang ke Indonesia pada 1957,” tulis Bonnie Triyana.

Namun, menurut Lastari, Setelah kepulanganya ke Gununggangsir, Semaun lantas pergi lagi, mungkin ke Jakarta atau Surabaya. “Memang rumah orang tuanya di sini, setelah ke Gununggangsir, tidak tahu apakah di Jakarta atau Surabaya,” ungkap Lastari.

Sepak terjang Semaun pasca kepulanganya dari Moskow sudah berbeda jauh dengan Semaun muda di tahun 1920-an. Selama berada di Rusia, Semaun aktif bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia, dan penyiar radio.