Pendakian Arjuno Dibuka, Simak Aturannya

1169
KETAT: Pendaki melakukan pendakian ke Gunung Arjuno. Foto: Istimewa.

 

Pasuruan (wartabromo.com) – Jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang via Kabupaten Pasuruan dibuka kembali sebelah ditutup akibat Pandemi Covid-19, Senin (12/10/2020).

Sejumlah aturan telah disiapkan. Diantaranya, larangan bagi pendaki untuk mengenakan sandal gunung bagi para pendaki.

Ahmad Wahyudi, Kepala UPT Tahura R Soerjo menjelaskan, ada dua jalur pendakian via Kabupaten Pasuruan yang telah dibuka. Yakni, melalui Tretes, di Kecamatan Prigen dan pendakian Tambakwatu, di Kecamatan Purwodadi.

“Terhitung mulai hari ini uji coba pembukaan jalur pendakian Arjuno-Welirang di dua pos pendakian Kabupaten Pasuruan,” kata Wahyudi, kepada WartaBromo.com.com melalui sambungan telepon.

Dalam masa uji coba ini, sejumlah aturan telah disiapkan. Diantaranya, wajib menyertakan surat kesehatan, memakai masker, pendakian tidak melebihi 2 hari, satu tenda hanya berisi satu pendaki, dan larangan mengenakan sandal

“Untuk pendaki wajib memakai sepatu gunung, bukan sandal gunung,” katanya.

Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi resiko pendaki agar tidak kecelakaan saat perjalanan. Perlengkapan pendaki harus sesuai SOP yang telah ditetapkan oleh pengelola.

Dalam masa uji coba ini, masyarakat yang ingin mendaki diwajibkan mendaftar via online di website Tahura R Soerjo, yakni, hhtps://sipenerang.tahuraradensoerjo.or.id. “Untuk pendaftaran wajib online,” ujar dia.

Masa uji coba ini akan berlangsung sampai Minggu 18 Oktober 2020. Sebab, puncak keramaian pengunjung yang mendaki, diprediksi terjadi saat akhir pekan.

Yudi sapaan akrab Kepala UPT Tahura R Soerjo, mengatakan jika dua pos pendakian Gunung Arjuno Welirang via Kabupaten Pasuruan punya kelebihan tertentu dibanding dengan pos pendakian di daerah lain.

Pendakian Gunung Arjuno Welirang via pos Tretes mempunyai akses yang mudah dan indah, serta banyak ditemukan sumber air.

“Pemandangannya lebih indah, lebih jelas, airnya lebih banyak, cuman lebih jauh sampai ke puncak, karena jalannya melingkar,” tandasnya.

Sedangkan untuk para pendaki yang akan menempuh dari pos pendakian Tambakwatu, akan disuguhi banyak situs sejarah.

“Kalau di Purwodadi situs sejarahnya lebih banyak. Jadi kalau lewat situ, tidak sekedar mendaki. Ada juga religinya disana. Airnya juga lebih banyak. Kalau ada air kan bebannya dari bawah tidak banyak,” tandasnya. (don/asd)