Aneka Lomba Sambut Hari Santri di Kota Probolinggo

858

Probolinggo (wartabromo.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, menggelar lomba-lomba islami. Lomba dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional itu, diharap meneguhkan dan memperkuat kebudayaan Islam.

Dibalut dengan Semarak Hari Santri Nasional (HSN), sedikitnya ada 12 jenis yang dilombakan. Yakni pencak silat, tartilul quran, azan, patrol, membaca kitab kuning, dan pildacil. Kemudian ada diba’, cerita kisah nabi, pidato bahasa indonesia, hadrah, musik islami, dan vlog.

Aneka lomba itu, diikuti oleh siswa SD (sekolah dasar), MI (madrasah ibtidaiyah), madin (madrasah diniyah), dan TPQ (taman pendidikan alquran) se Kota Probolinggo.

Seleksi awal dimulai sejak 1 hingga 14 Oktober secara virtual, baik rekaman video atau langsung live melalui aplikasi media sosial.
“Hal ini lakukan karena pandemi corona, tahun sebelumnya dilaksanakan secara terbuka. Ini inisiatif dari masyarakat untuk menumbuhkan dan memperkuat kebudayaan Islam. Momen HSN menjadi salah satu momen yang tepat untuk itu,” kata Kepala Dinas Pendidikan¬† dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat, Moch. Masykur melalui Kabid Kebudayaan, Sardi pada Jumat, 16 Oktober 2020.

Dari seleksi awal itu, dipilih 6 finalis pada masing-masing jenis lomba. Lomba final, kemudian digelar di Puri Manggala Bakti Kantor Wali Kota Probolinggo mulai 15 Oktober hingga 18 Oktober, mencari pemenang harapan tiga hingga juara 1.

“Kami terapkan protokol kesehatan secara ketat dalam pelaksanaan grand final ini. Hanya peserta dan pendamping saja yang dapat masuk ke lokasi acara. Penyerahan hadiah, khusus pemenang pertama diserahkan saat peresmian Klinik NU di Kedopok oleh wali kota saat puncak HSN tanggal 22 Oktober,” terang Sardi usai menyerahkan hadiah bagi pemenang lomba Azan.

Wakil Sekretaris PCNU Kota Probolinggo, Mashuri mengatakan lomba-lomba hasil kolaborasi NU dan Pemkot Probolinggo, sangat penting digelar. Apalagi yang dibidik merupakan anak usia sekolah. Di mana pertumbuhan psikomotorik dan kognitif perlu dipacu dan diisi dengan ilmu agama. Sehingga pengetahuan yang didapat saat kecil, menjadi pegangan hidup ketika dewasa kelak.

“Mendidik anak di usia yang sangat muda, ibarat melukis di atas batu. Memori yang didapat sangat kuat hingga dewasa nanti. Karena itu penting dikenalkan dengan lomba keagamaan,” sebutnya.

“Ya selain itu, kami juga ingin mengasah kemampuan dan kreativitas anak. Menjadi juara dalam sebuah perlombaan akan memacu mereka untuk lebih aktif. Apalagi dirinya benar-benar kompeten di bidangnya, ada yang dari luar daerah,” kata alumni Ponpes Sidogiri Pasuruan itu. (saw/adv)