Muslihat Musang Emas (2017): Nasib Sial Dalam 21 Fragmen

679
Cerpen

Oleh: Amal Taufik

“Kita punya peluang mendirikan agama baru,” kataku kepada Donny, adik sepupuku, seorang fotografer. (hal 9)
Itulah kalimat pertama dari cerpen pembuka di buku Muslihat Musang Emas (2017) ini. Kemudian pembaca akan diberi tahu oleh si-Aku bahwa ia pernah mengimpor ratusan sepatu dari Cina dan ketika pesanannya sampai, semuanya adalah sepatu sebelah kiri.

… segera ia menelepon si pedagang di Cina. Jawaban yang ia terima membuatnya melongo. “Lho yang kamu tunjuk di toko kan memang sepatu kiri,” kata si pedagang. (hal 10)

Buku ini berisi kumpulan cerpen dengan berbagai bentuk dan tema. Namun sebenarnya jika boleh ditarik benang merah, tema besar yang mengikat dari seluruh cerita adalah: nasib sial. Manusia tak bisa lepas dari kesialan dan bagaimana mereka mengatasi kesialan, oleh Yusi diolah menjadi bahan cerita yang tak terbayangkan.

Nasib sial itu dipecah dalam 21 fragmen. Cerpen pertama, misalnya, Muslihat Musang Emas dan Elena. Di situ Yusi mengisahkan nasib sial yang menimpa tokoh bernama Donny.

Namun tak hanya soal kesialan, di cerpen ini Yusi juga membahas masalah gender.
Lalu cerpen berjudul Samsara. Ialah cerita tentang petualangan seorang anak yang minggat setelah mengetahui, bahwa dirinya hasil hubungan sedarah.

Ia kemudian bertemu seorang milisi timur tengah di Surabaya dan sempat menjadi tentara gelap di Afghanistan.
Yang menarik dari cerpen ini ialah eksplorasi Yusi pada psikologi si tokoh selama menjadi tentara gelap di Afghanistan.

Ia didera kesialan demi kesialan selama di Afghanistan hingga bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa begitu sulit menjadi syuhada?” (hal 64). Dan bagaimana si tokoh memaknai kesialan yang ia alami serta bagaimana ia berusaha keluar dari nasib sial itu terasa begitu getir.

Salah satu cerpen yang paling kocak adalah Kecerdasan dan Cairan Pekat. Saya benar-benar tidak membayangkan ada manusia yang bisa sampai memiliki ide membuat cerita dengan tokoh yang, demi meningkatkan kecerdasan, meminum spermanya sendiri. Saya benar-benar menangis karena saking jenakanya cerita ini.

Bayangkan kalimat ini,
… Tanpa pikir panjang, ia menjilat dan menelan semua cairan yang menempel di telapaknya dan mengambil yang masih bisa ia selamatkan di meja. Setelah selesai, baru ia mengingat jejak rasa yang ditinggalkan, asam manis. (hal 179).
Asam manis! Usai membaca kalimat itu, saya berkali-kali berkata “As***!! Asam manis suuuuu!!!”

Buku ini ditutup dengan cerita berjudul Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia. Cerita ini saya pikir memang sebuah cerita pamungkas yang patut diletakkan di akhir. Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia berkisah tentang sekumpulan orang cebol dengan adegan-adegan dan alur yang terasa sangat gelap.

Membaca Muslihat Musang Emas seperti mendengarkan seorang paman bercerita kepada keponakannya di pekarangan rumah. Yusi menempatkan pembacanya sebagai orang dekat, akrab, sama sekali tanpa sekat, sehingga ia bisa los bercerita tentang apapun tanpa ada yang perlu dirahasiakan atau disensor.

Cerita-cerita tentang moralitas yang remuk, nilai-nilai yang kocar-kacir, serta segala yang gelap dari jiwa manusia dituturkan oleh Yusi dengan gaya bicara sehari-hari sambil diselingi tawa, sedih—bahkan sesekali keduanya sekaligus—seolah-olah cerita-cerita ajaib itu memang benar-benar ada dan terjadi di dunia nyata.

Akhir kata, buku ini sangat cocok menjadi teman bacaan di akhir pekan. Saya, setelah selesai menuntaskan buku ini, langsung menutupnya dan bergumam “As**..as**..” hingga tulisan ini selesai ditulis. (*)