Marak Kejahatan Digital, Berikut Tips untuk Menangkal

597
KEBIASAAN BARU: Mitra driver GoJek menyemprotkan desinfektan ke kemasan makanan sebelum diserahkan ke customer.

 

Pasuruan (WartaBromo.com) – Pandemi yang disertai penekanan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah menyebabkan aktivitas warga dalam ber-internet meningkat

Sejalan dengan itu, ancaman kejahatan dunia maya pun ikut meningkat. Nah, disinilah pentingnya literasi digital agar terhindar dari sasaran pelaku kejahatan.

“Meningkatkan literasi dan kompetensi digital menjadi hal yang penting agar terhindar dari sasaran pelalu kejahatan digital,” terang Peneliti Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada (UGM), Tony Seno Hartono dalam webinar bersama AJI-GoJek, akhir September lalu.

Dikatakan Tony, pandemi COVID-19 ini telah menghasilkan gaya hidup digital baru. Yang pada akhirnya melahirkan ketergantungan masyarakat terhadap platform digital.

“Oleh karena itu, peningkatan kompetensi keamanan digital masyarakat (pengguna) menjadi semakin penting dan relevan,” ulang Tony menegaskan ucapannya sebelumnya.

Secara khusus, Tony juga menyinggung pengaruh pandemi yang secara psikologis memunculkan kekhawatiran di kalangan publik. Situasi itu membuka peluang bagi pelaku kejahatan mengambil untung.

Memanfaatkan teknologi, para pelaku melakukan rekayasa sosial atau manipulasi psikologi untuk menipu korban.

Berdasar kajian CfDS UGM, terdapat lima jenis penipuan dengan teknik social engineering di sejumlah layanan platform digital. Seperti layanan aplikasi on-demand, telekomunikasi, dompet digital, maupun e-commerce.

“Pelaku memanfaatkan perubahan perilaku masyarakat yang lebih banyak berinteraksi di platform digital dengan melakukan tindakan seperti phishing, phone scams, impersonation, pretexting maupun SMShing,” katanya.

Agar terhindar dari pelaku kejahatan digital, Tony menyampaikan beberapa tips. Yang paling sederhana, adalah mengganti password secara berkala. Kemudian, menerapkan verifikasi tambahan; serta meningkatkan literasi mengenai modus-modus penipuan digital.

Terapkan Keamanan Berlapis

Di sisi lain, hasil penelitian sejumlah lembaga menunjukkan adanya peningkatan masyarakat dalam berinteraksi digital imbas pandemi. Survei oleh McKinsey menyebut adanya peningkatan penggunaan mobil device sebesar 20 persen.

Peningkatan lebih tinggi terjadi pada kebiasaan masyarakat untuk memesan makanan/minuman secara online (85 persen); belanja online (92 persen).

Temuan itu pun sejalan dengan hasil penelitian oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI).

Hasil penelitian yang dirilis 12 Oktober itu menunjukkan, mayoritas pelanggan menganggap standar keamanan Gojek lebih baik dari standar industri manapun (93%) dan 86 persen mampu mendukung beradaptasi dengan kebiasaan baru serta tetap produktif saat pandemi.

Temuan menarik lainnya, mayoritas pelanggan menjadi lebih sering dalam menggunakan layanan-layanan Gojek dibandingkan sebelum masa pandemi.

Seperti penggunaan GoFood yang meningkat 65 persen dari sebelumnya; GoPay (68 persen); PayLater (58 persen) dan GoSend (36 persen).

Disisi lain, meningkatnya traffic interaksi disadari betul oleh GoJek. Demi kenyamanan konsumen, perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini pun berkomitmen meningkatkan standar keamanan.

“Sistem kami diamankan dengan Gojek SHIELD, yaitu teknologi keamanan kelas dunia yang menjamin keamanan pengguna saat menggunakan aplikasi Gojek,” kata Senior Vice President IT Governance, Risk & Compliance GoPay, Genesha Saputra, dalam siaran persnya, 29 Mei lalu.

Menurut Ganesha, Gojek SHIELD diterapkan di seluruh aplikasi untuk konsumen, merchant dan mitra driver. Penerapan Gojek SHIELD memungkinkan adanya perlindungan keamanan berlapis melalui verifikasi PIN.

“Dan, tidak kalah mutakhir adalah intervensi chat berbasis artificial intelligence, guna mencegah aksi penipuan bermodus manipulasi psikologis,” jelasnya. (asd)