Berkah Pandemi, Pria Asal Lumajang Buat Usaha Rumahan Kerajinan Batok Kelapa

1388
Yusuf saat beraktivitas membuat kerajinan dari batok kelapa, akhir Oktober 2020. Foto: Rokhmad.

 

Pandemi tidak hanya menyisakan sengsara bagi warga. Sebagian justru menjadi sumber inspirasi untuk membuka usaha.

Oleh: Rokhmad

MUHAMMAD Yusuf (34), warga Desa Ranuyoso, Lumajang adalah contoh mereka yang justru meraup sukses setelah dihajar pandemi.

Kehilangan pekerjaan imbas wabah Covid-19, pria dengan 2 anak ini justru mampu mendirikan usaha rumahan kerajinan batok kelapa.

Mulai dari pot bunga, tempat sampah rokok (asbak), tempat salon aktif, aneka piring dan gelas hingga tempat penyimpanan rempah dapur.

Kendati awalnya hanya coba-coba, omset yang didapatnya pun tergolong lumayan. Bahkan, melebihi dari upahnya sebagai buruh bangunan.

Awalnya, suami dari Novi Ika (30) ini sejak tahun 2011 lalu adalah buruh bangunan di Kabupaten Probolinggo. Meski harus bekerja dengan alat-alat berat, pekerjaan itu ia tekuni untuk menafkahi keluarganya. Hingga akhirnya, wabah pandemi menyerang Indonesia.

Dampak pandemi ikut meluluhlantahkan semua sektor perekonomian tak terkecuali dunia industri properti.

Bahkan, bulan Maret 2020 ia harus kehilangan pekerjaan imbas diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota-kota zona merah. Termasuk beberapa kota di Jawa Timur yang akhirnya berdampak pada dunia usaha.

Sejak itulah, pekerjaan Yusuf mulai tak stabil. Ia pun pulang kerumahnya karena tak lagi pekerjaan.

Awalnya selain menjadi buruh tani ia mencoba membawa pulang batok kelapa bekas yang dimakan tupai untuk bahan bakat tungku. Namun karena iseng, ia pun mencoba membuat kerajinan ringan dari batok tersebut untuk koleksi bunga pribadinya.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Beberapa kerajinan batok hasil tangannya justru mendapatkan tanggapan positif dari warga sekitar dan temannya, Jauhar (31).

Hingga akhirnya ia bersama jauhar sepakat membuat usaha rumahan kerajinan batok yang kini pasarnya sampai Malang, Wonosobo, Bogor, Bali dan magelang.

“Saya yang bagian buat kerajinannya, Mas Jauhar bagian pemasarannya Mas,” ungkap Yusuf saat diwawancarai pekan lalu.

Tidak hanya lebih dekat dengan keluarga, dari usaha rumahan kerajinan batoknya juga mampu menghasilkan uang yang melebihi dari upahnya sebagai buruh bangunan dulu.

“Dulu paling banyak upah saya hanya 1 Jutaan Mas, itupun masih kotor belum dipotong makan, bensin dan lainnya. Namun sekarang alhamdulillah saya bisa mengumpulkan uang sampai 2 juta bersihnya,” ceritanya sembari tersenyum.

Sementara itu, Jauhar salah satu rekanannya mengaku sengaja membuat usaha ini bersama Yusuf karena melihat kondisi masyarakat yang diminta banyak berada dirumah.

“Awalnya saya tidak begitu yakin, tapi kok banyak permintaan malah ketika saya sama mas Yusuf menekuni usaha ini,” ungkap Jauhar.

Ia pun mengaku dari berbagai aneka kerajinan yang ia buat bersama Yusuf, pot batok model gantungan paling banyak peminatnya.

“Yang banyak pot gantung sih mas, tapi akhirnya-akhir ini banyak yang minta dibuatin piring, hingga gelas dari batok juga,” tambahnya.

Harga yang dibandrol dari kerajinan batok ini cukup murah, mulai dari Rp. 8 ribu sampai Rp.10 ribu saja. Tergantung tingkat kerumitannya.

Meski pesanan terus berdatangan, namun yusuf dan jauhar mengaku mengalami kesulitan mengembangkan usahanya, terutama dari tegangan listrik rumahnya yang hanya berkapasistas 450 WATT. (asd)