Kisah Mantan Pemandu Wisata, Terpuruk hingga Bangkit karena Wabah

1271
As'ad memotong bongkahan kayu untuk dudukan akuarium buatannya. Meski sempat terpuruk akibat pandemi, ekonomi As'ad kini perlahan mulai bangkit. Foto: A. Romadoni.

Ibarat roller coaster, kehidupan ekonomi M. As’ad naik turun. Mapan sebagai pemandu wisata, hingga nyaris tak bisa makan akibat pandemi, ia berhasil bangkit sebagai perajin akuarium.

 

MENGGUNAKAN gergaji, As’ad terlihat sibuk memotong tunggak kayu untuk mendapatkan bentuk seperti yang diinginkan, Rabu (4/11/2020) lalu. Dengan rambut yang diikat, ia terlihat begitu semangat.

Aktivitas itu dilakoni Asad sejak pagi. Di rumahnya di Kelurahan Purworejo, Kota Pasuruan, kayu yang sudah terbentuk itu yang nanti akan dipakai sebagai pangkon kaca akuarium.

“Alhamdulillah. Tadinya saya sampai tidak bisa makan gara-gara Covid-19 ini. Tapi, akhirnya saya bisa bertahan dari kerajinan ini,” ujar Asad yang ditemani kakaknya, Hasan.

Menjadi perajin tak pernah terlintas dalam benak Asad. Semua berawal dari pandemi yang mengubah perjalanan hidupnya. Dari pemandu wisata, menjadi perajin akuarium.

Kepada WartaBromo, Asad mengisahkan pengalamannya ketika bekerja sebagai pemandu wisata di Pulau Dewata. Dari pekerjaannya itu, ia bisa menghidupi istri dan anaknya.

Tapi, tiba-tiba wabah itu datang akhir tahun lalu, di mulai di Wihan, Tiongkok. Meski belum sampai di Indonesia, dampaknya sudah mulai terasa. Sektor pariwisata di Bali langsung drop.

Tiga bulan lebih, pria kelahiran Kelurahan Kota Pasuruan itu bertahan hidup tanpa pekerjaan. Banyak tempat wisata tutup. Asad yang sudah empat tahun menjadi pemandu tak lagi punya penghasilan.

Hidup susah As’ad rasakan sejak pertengahan Desember 2019 sampai Maret 2020. Pulau Bali yang awalnya dipenuhi pelancong mancanagera, semakin berkurang, bahkan sepi.

Sri Rukmiati (28) istri As’ad masih ingat betul bagaimana suasana Bali awal pandemi kala itu. “Keadaan benar-benar berbeda saat itu,” katanya.

Setelah Hari Raya Nyepi, Bali benar-benar sepi. Ia dan suaminya merasakan sedikit demi sedikit hidup tak berpenghasilan.

Mia, panggilan akrabnya, memang ikut tinggal di Bali. Berbekal kemampuannya berbahasa Inggris dan Mandarin, ia pun kerap membantu suaminya sebagai translater.

“Saya biasanya diajak suami sebagai translater, karena saya bisa dua bahasa,” kata Mia saat ditemui di rumahnya, Rabu (4/11/2020).

Awal Januari menjadi perlajanan hidup yang menyusahkan baginya. Pandemi di luar negeri membuat ia tak ada pemasukan sama sekali untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

Praktis, ia hanya mengandalkan uang tabungan untuk menyetok makanan di dalam kulkas. Seperti telor, mie instan dan bubur untuk anaknya semata wayangnya, Sahira.

Ia semakin berpikir keras. Pandemi yang kian meluas membuatnya puyeng, “Bagaimana ke keluarganya yang tak berpenghasilan sama sekali karena corona dan hidup di tanah rantau ini.”

Tinggal di kontrakan kecil milik saudaranya, dengan membayar uang bulanan satu juta rupiah setiap bulan, menambah beban financial yang tak kunjung selesai.

“Saya nggak ngerti mau gimana lagi waktu itu,” ucapnya dengan mata memerah menceritakan kisahnya kepada WartaBromo.

Dua bulan berlalu. Stok makanan hampir habis. Dalam waktu yang sama, kabar tentang virus corona telah masuk ke Indonesia.

Sejak saat itu, puluhan hotel di Bali sudah mulai tutup dan wisata pun juga seperti itu. Demi bertahan hidup, sang suami beralih berpindah profesi sebagai ojek online.

Hingga suatu hari suaminya datang dan memberikannya sejumlah uang, “Dapat darimana ini uang ini mas?,” tanya Mia kepada suaminya.

“Saya sudah tidak ada tabungan lagi, sebenarnya saya selama ini sering pinjam uang kepada teman-teman, ini pun juga dari pinjam,” jawab As’ad kepada sang istri.

Berbekal uang yang diberi suaminya, Mia lantas berinisiatif membuat aneka camilan dan kue basah untuk dijual online maupun ke tetangganya. Tapi, pandemi membuat usahanya itu gagal.

Hampir 4 bulan susah payah di tanah rantau. Sampai suatu ketika ia merasa lapas, sementara duit di kantong sudah tak ada lagi. Orderan ojek online dari pagi juga tak ada.

Nekat, As’ad mengambil makanan yang ada di pure untuk dimakan. “Saya sampai makan sajen-sajen di pure Mas, saya nggak tau mau makan apa lagi,” katanya bercerita sambil disaksikan oleh sang istri.

Pada April, As’ad memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya di Kota Pasuruan. Karena tak punya uang, ia pun meminta tolong temannya untuk menumpang.