Ada Ratusan Ribu Ton Sampah di Kabupaten Probolinggo, Tapi yang Bisa Diangkut Hanya Segini

743

Probolinggo (wartabromo.com) – Setiap hari, ratusan ton sampah dihasilkan warga Kabupaten Probolinggo. Namun, hanya sekitar 50 ton yang bisa diangkut sehingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendorong upaya daur ulang sampah.

Kepala DLH Kabupaten Probolinggo, Dwijoko Nurjayadi mengungkapkan sampah itu diangkut dan dibuang ke TPA Seboro di Kecamatan Krejengan. Sebagian lagi, diangkut ke 3 lokasi rumah kompos yang dimiliki DLH, yakni di Pasar Kebonagung, Kecamatan Kraksaan; Pasar Maron Kecamatan Maron; dan di TPA Seboro Kecamatan Krejengan.

“Sampah yang kami angkut ke rumah kompos ini hanya sampah organik saja. Kalau sampah anorganik atau nonorganik, tetap kami angkut ke TPA. Oleh karenanya sampah yang ada tak semuanya harus dibuang ke TPA,” kata Dwijoko.

Dengan jumlah penduduk yang mendekati 1,2 juta jiwa, produksi sampah setiap hari mencapai ratusan ribu ton sehari. Asumsinya, perhitungan sampah 0,6 persen dari jumlah penduduk, maka ada 600 ton sampah. Ratusan ton sampah itu, termasuk juga sampah yang dibuang ke sungai atau jalan, dan sampah yang dibakar oleh warga.

Jumlah sampah itu tak sebanding dengan jumlah petugas dan angkutan sampah yang dimiliki DLH.

Diketahui DLH saat ini memiliki belasan dump truk dan kendaraan roda 3 untuk angkutan sampah. Roda 3 mengangkut sampah di seputar Kraksaan dan Kecamatan Dringu untuk dibawa ke tempat pembuangan sampah (TPS).

Sedangkan armada truk mengangkut sampah dari TPS ke tempat pembuangan akhir (TPA) Seboro. Armada truk tersebut beroperasi di 20 kecamatan. Dalam sehari, setiap truk beroperasi sebanyak 3 rit. Sekali angkut, truk itu mengambil di 3 TPS berbeda. Total dalam sehari sekitar 50 ton sampah berhasil diangkut ke TPA.

Dengan kemampuan itu, maka banyak sampah yang tidak terangkut ke TPA, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Utamanya sampah nonorganik, seperti plastik, hingga karet.

Oleh karena itu, DLH berencana menggandeng desa untuk mengolah sampah. Mengajak masyarakat memanfaatkan rumah kompos guna menyiasati melimpahnya sampah. Selain itu mendaur ulang sampah nonorganik juga jadi pilihan.

“Sehingga yang diangkut ke TPA adalah residu saja. Di tingkat desa ada perputaran ekonomi dengan memanfaatkan sampah-sampah yang dihasilkan di lingkungannya. Ekonomi berkembang, lingkungan hidup sehat,” tandas mantan Kadisperindag itu. (saw/ono)