Pakai Hologram asal China, Sindikat Pemalsu Benih Jagung Sudah 2 Tahun Beroperasi

4362
Kapolres Pasuruan, AKBP. Rofiq Ripto Himawan menunjukkan barang bukti kemasan benih jagung palsu yang juga dilengkapi hologram. Foto: Miftahul Ulum.

 

Pasuruan (WartaBromo.com) – Polres Pasuruan membekuk tiga komplotan pemalsu benih jagung yang beraksi di sejumlah tempat.

Baca: Komplotan Pemalsu Benih Jagung Dibekuk Polres Pasuruan

Saeroji, salah satu pelaku mengaku belum lama memalsukan benih jagung merek Bisi-18 itu. “Sejak Juni 2020,” ungkapnya dengan kepala tertundung.

Namun, pengakuan itu ditepis Kapolres. Dikatakannya, dari hasil penyeledikan, komplotan ini sudah beraksi sejak dua tahun lalu. “Menurut analisis kami, sindikat ini telah memalsukan benih jagung sejak dua tahun lalu,” imbuh Rofiq.

Para pelaku pun, menurut Kapolres, terbilang mahir. Lebih mahir dibanding kasus pemalsuan benih yang pernah ditanganinya. Lebih canggih dan terstruktur.

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti diantaranya mesin jahit, alat sablon, mesin pres, hingga hologram.

Bahkan hologram yang menjadi penanda keaslian produk Bisi-18 dari PT Bisi Internasional dipalsukan hingga mencapai kemiripan 90 persen.

“Sebenarnya dari PT Bisi sudah secure dalam pengemasan dengan adanya hologram. Tapi mereka masih bisa memalsukan, bahkan sampai memesan hologram palsu khusus dari Cina,” terangnya lebih lanjut.

Akibat pemalsuan ini, PT BISI Internasional , menderita kerugian hingga Rp 7 miliar. Selain itu, perusahaan juga banyak mendapat komplain dari petani.

Atas tindakannya, pelaku akan dijerat 3 pasal, di antaranya pasal 115 UU Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan dengan pidana maksimal enam tahun penjara dan denda maksimal 3 miliar.

Disamping itu, 3 tersangka juga akan dijerat pasal 100 dan 102 UU Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merk dan Indikasi Geografis. Pada pasal 100, hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 2 miliar. Sedangkan pasal 102 akan menjerat pelaku dengan hukuman penjara 2 tahun dan denda maksimal Rp 200 juta.

Rofiq juga menghimbau kepada masyarakat, terutama petani agar tak mudahmudahtergiur tergiur dengan harga yang tak wajar dalam pembelian bibit. Sebab, bisa jadi harga murah justru karena benih tersebut palsu yang dikemas serupa dengan yang asli.

“Kami menghimbau masyarakat agar waspada sebelum membeli bibit jagung. Dan tidak tergiur dengan iming-iming harga murah tapi palsu,” pungkasnya. (oel/asd)