Insyaf, Raja Maling Lumbang Sukses Jadi Peternak Madu

2860
Abdul Rohman warga Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, sukses mengembangkan budidaya lebah madu. Raja maling insaf itu, kini sukses dan sudah menunaikan ibadah haji.

Laporan: H. Lailatuansyah, Probolinggo.

“Saya pilih lahan ini, karena cocok untuk budidaya lebah. Karena dikelilingi pohon randu dan mangga. Agar bisa bertahan hidup, ribuan lebah madu ini mengkonsumsi nektar dari bunga randu dan mangga,” ungkap Abdul Rohman sembari menunjukkan lokasi budidaya lebahnya, pada Rabu (6/1/2021).

Kesuksesan Abdul Rohman bukanlah diraih secara instan. Melainkan berliku-liku dengan sejarah panjang. Dengan masa lalu kelam, jalan yang ia tempuh malah mendapat cibiran tetangga.

Bermula ketika dipercaya seseorang untuk menjadi penjaga malam di lahan lebah madu milik warga Jawa Tengah. Agar madu yang dihasilkan tak dicuri orang. Maklum, Rohman muda dikenal sebagai raja maling di daerahnya.

Baca Juga :   Bromo Bebas Kendaraan Bermotor saat Kepitu, hingga Ketua Dewan Sebut Cimory Wisata “Paling Hot” | Koran Online 4 Jan

“Ya karena pekerjaan (maling, red) itu, saya dipercaya seseorang untuk menjadi penjaga malam,” kenang pria berusia 55 tahun tersebut.

Lambat laun Rohman pun sadar dengan potensi madu di wilayahnya. Sembari menjadi penjaga malam, ia pun belajar secara otodidak budidaya lebah madu. Sembari menata hidupnya, kembali ke jalan yang benar alias insyaf.

Ia kemudian menjual sepeda motor satu-satunya untuk dijadikan modal. Uang itu dibuat membeli belasan kotak sarang lebah. Usaha ternak lebah itupun ditelateni.

Perlahan tapi pasti, kotak lebah yang awalnya hanya puluhan, kemudian berkembang menjadi ratusan. Hingga kini, kotak sarang lebih yang ia miliki berjumlah lebih dari 300 unit.

“Alhamdulillah, usaha ini mampu mensejahterakan keluarga kami, menuntut saya untuk bekerja di jalan yang benar. Juga mampu memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji,” sebutnya.

Baca Juga :   Pemkab Probolinggo Tegaskan Responsif Tanggulangi Bencana

Dari jumlah tersebut, Abdul Rohman bisa meraup untung hingga Rp40 juta, dalam sekali panen. Masa panen bisa berlangsung hingga 15 hari sekali. Sedangkan madu murni yang dihasilkan mencapai 4 hingga 5 kwintal setiap kali panen.

Di tengah pandemi covid19 seperti ini, permintaan madu lebah juga tinggi. Bukan hanya dalam kemasan drum besar. Ukuran jerigen kecil juga laris di pasaran. Pemasarannya pun meluas, bukan saja di Jawa Timur, tetapi juga hingga ke Jawa Tengah.

“Karena itu, tak jarang kami harus pindah ke daerah lain, untuk mendapatkan nektar bunga. Ketika daerah sebelumnya sudah mulai langka,” tutur Abdul Rohman.

Tingginya permintaan madu lebah, mulai nampak sejak awal pandemi covid19, Maret 2020 silam. Petani lebah di sekitar Lumbang mendapat berkah atas bencana yang melanda seluruh dunia itu. Ribuan liter madu berpindah tangan ke tangan warga.

Baca Juga :   Pasien Positif asal Tiris Serahkan Diri, Bersedia Jalani Karantina

“Permintaan justru tinggi, karena madu dianggap menjadi sumber penambah imunitas tubuh,” sebut Bambang Hariwahyudi, pembina petani lebah Lumbang.

Diketahui, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, merupakan salah satu wilayah penghasil madu lebah terbaik. Madu lebah selama ini, diyakini memiliki banyak manfaat dan khasiat. Selain untuk meningkatkan daya tahan tubuh, madu lebah juga baik untuk kesehatan badan di tengah pandemi covid19. (*)