Menyambangi Ryu, Bocah Malang Penderita Tumor yang Butuh Uluran Tangan

1674
Ryu, bocah penderita tumor yang butuh uluran tangan. Foto: Amal Taufik.

 

Laporan: Amal Taufik

DUA bocah, laki-laki dan perempuan tengah asyik bola plastik di halaman rumahnya di Jalan Veteran 3, Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Senin (11/01/2021) siang. Mereka berlarian sambil tertawa mengejar bola plastik yang menggelinding ke berbagai sudut.

Lazimnya anak-anak yang tengah bermain, tak ada yang berbeda dengan bocah-bocah seusinya. Padahal, salah satu dari mereka tengah menderita tumor pembuluh darah.

Ia adalah Ryu Argya Maheswara Al Fatih, putra kedua dari pasangan Sofyan Lutfi dan Siti Aisyah. Bocah laki-laki yang kini berusia dua tahun itu diserang tumor sejak bayi. “Sejak lahir sudah ada,” kata Lutfi ketika ditemui WartaBromo.

Lutfi bercerita, waktu itu bulan Mei 2018 di RSUD Dr. R. Soedarsono, Kota Pasuruan, Ryu lahir. Oleh perawat tangan Lutfi diarahkan ke bagian bibir anaknya keduanya itu. Nah, ketika itulah ia merasakan ada benjolan kecil.

Luthfi sendiri tak pernah tahu seperti apa benjolan itu. Sebab, ia sendiri memiliki keterbatasan; tak bisa melihat sejak berusia 25 tahun.

Hanya saja saat itu ia menganggap benjolan pada bibir Ryu akibat persalinan dan hanya perlu dikompres dan minum vitamin agar bisa membaik.

Olehnya, sang jabang bayi itu kemudian dibawa pulang ke rumahnya yang sederhana. Sehari-hari Lutfi bekerja keliling memulung ponsel-ponsel rusak.

Sedangkan Istrinya merawat dua anaknya di rumah sambil sesekali membantu temannya berjualan perlengkapan ponsel secara online.

“Itu saya rawat sendiri. Saya kompres. Saya kasih minyak tawon. Terus dikasih vitamin. Mungkin karena usianya masih bayi, jadi tidak langsung ada tindakan,” tuturnya.

Namun, Luthfi makin khawatir karena setelah setahun, benjolan itu tak kunjung membaik. Alih-alih, justru kian membesar hingga ia dan istrinya memeriksakan kembali Ryu ke RSUD Bangil.

Saat itulah mereka baru tahu bila benjolan di bibir putranya adalah penyakit. Oleh RSUD Bangil Ryu pun kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA), Malang.

Tak berbeda. Hasil pemeriksaan oleh pihak RSSA Malang dinyatakan bila benjolan di bibir anaknya itu adalah tumor.

Secara fisik, Ryu tumbuh sebagaimana balita pada umumnya. Tubuhnya sehat, bermain, berlarian, tertawa. Dengan anak-anak seumurannya pun, ia mudah berinteraksi.

“Anak saya ini grapyak. Kalau ada anak kecil-kecil pasti disamperin. Tapi yang disamperin itu lari, takut,” katanya sembari tersenyum.

Respon lingkungan semacam itu mungkin sudah ditangkap Ryu. Sekarang, jika Lutfi mengajaknya bermain ke perpustakaan jalanan untuk sekadar refreshing, mendengarkan dongeng-dongeng, Ryu tidak mau membuka maskernya.

“Mungkin sudah tahu ya anaknya,” tambah Lutfi.

Saat ini Ryu masih sulit makan. Orang tuanya biasanya membuatkan bubur lembut agar mudah ditelan.

Itu pun mereka harus tetap hati-hati saat menyuapi. Apalagi bentuk gigi Ryu yang tumbuh ke dalam karena terganggu tumor di bibirnya.

Selain itu, bibirnya yang terserang tumor sangat sensitif dan mudah mengeluarkan darah.

Luthfi bilang, tak jarang, sebelum tidur Ryu mengeluhkan bibirnya sakit, keluar darah. Pada saat-saat seperti itu, lutfi sebagai orang tua, hatinya rasanya tak karuan.

Dulu, sebelum pandemi Covid-19, Ryu rutin kontrol tiap satu hingga dua kali seminggu ke RSSA Malang untuk diobservasi. Kontrol rutin itu ia jalani selama delapan bulan.

Memang selama kontrol ke rumah sakit tidak dipungut biaya karena menggunakan kartu indonesia sehat (KIS). Namun perjalanan Pasuruan-Malang menelan biaya yang tak sedikit baginya.

Sehari-hari memulung ponsel rusak, paling sedikit ia bisa memperoleh penghasilan Rp 20 ribu kadang-kadang sampai Rp 50 ribu. Sementara kontrol ke Malang, ia harus naik bus membawa serta kedua anaknya.

“Untuk makan anak-anak aja berapa. Apalagi juga kan saya tidak punya kendaraan sendiri,” ujarnya.

Selama ini, jaringan pertemanan-lah yang banyak membantu Lutfi. Mulai jaringan di perpustakaan jalanan hingga Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Sampai akhirnya ia bisa terkoneksi dengan Yayasan Seribu Senyum yang saat ini mendampinginya.

Menurut Lutfi, sebenarnya Ryu bisa dioperasi tanpa dipungut biaya dengan menggunakan KIS. Namun untuk hal itu, ia harus antre dengan pengguna KIS yang lain dan tidak ada kepastian waktunya.