Lemah Otak dan Ayan, Balita Kademangan Butuh Uluran Tangan

681

Kademangan (wartabromo.com) – Malang menimpa balita asal Triwung Lor, Kademangan, Kota Probolinggo. Di usianya yang masih seumur jagung, balita ini harus menderita karena lemah otak dan ayan (epilepsy). Kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, membuat pengobatan tersendat.

Di rumah sederhana inilah, tangis lemah Muhammad Bakri, balita berusia 2 tahun 10 bulan, putra kedua pasutri Khoiriyah (25) dan Samsul Arifin (36) terdengar. Ia merupakan putra kedua pasangan ini. Putra pertama pasutri ini, sebelumnya meninggal, karena lahir premature.

Bakri kecil pun hanya bisa menangis, sepanjang hari. Lantaran penyakit lemah otak atau cerebral palsy dan penyakit ayan atau epilepsy yang dideritanya.

Khoiriyah, sang ibu, juga tak bisa berbuat banyak. Saat lahir dahulu, tanda-tanda penyakit itu tidak ada. Bahkan Bakri lahir normal dan sehat di bidan desa setempat. Gejala muncul, saat bayi Bakri berusia sepuluh hari. Badannya tiba-tiba panas, kejang dan gejala kuning di kulitnya.

“Dari situ dirawat di rumah sakit selama satu bulan, setelah itu pulang. Kata dokter juga tidak ada diagnose apa-apa,” kata Khoiriyah, Selasa (26/1/2021).

Pada usia enam bulan, pasutri itu berusaha memeriksakan anak semata wayangnya tersebut. Hasil diagnose dokter atas rekam otak yang dilakukan, Bakri kecil mengidap lemah otak atau cerebral palsy serta penyakit ayan atau epilepsy. Hal inilah yang membuat badan kecil Bakri seolah tegang terus.

“Sejauh ini kami sudah mencoba pengobatan alternatif. Untuk kesembuhan anak kami,” tutur Khoiriyah.

Untuk biaya pengobatan, kini hanya bisa digantungkan pada penghasilan Samsul Arifin, yang bekerja di bengkel motor. Harapan Khoiriyah pun tak muluk-muluk. Dirinya dan keluarga berharap, ada uluran tangan dari dermawan maupun pemerintah. Untuk pengobatan anaknya itu.

Tetangga sekitar yang juga masih ada ikatan saudara pun tidak bisa berbuat banyak. “Tapi ketika menangis, beberapa tetangga turut menenangkan. Bapaknya yang kasihan, tiap malam mulai jam 2 sampai subuh, mesti terbangun karena anaknya menangis,” kata salah satu tetangga, Rahmad.

Warga berharap, ada perhatian dari pemerintah. Khususnya dari Dinas Kesehatan setempat. Hal ini untuk membantu meringankan biaya pengobatan dan gizi Bakri. (lai/saw)