Orang Tua Perlu Tahu, Ini Mitos Membesarkan Anak Remaja

1349
mitos membesarkan anak remaja

Pasuruan (WartaBromo.com) – Bagi setiap orang tua, membesarkan anak menjadi tantangan tersendiri. Terlebih ketika anak menginjak usia remaja yang mendapati suguhan seputar problematikanya.

Seorang psikolog anak di Boston, Amerika Serikat, Ellen O’Donnel PhD mengutarakan pendapatnya soal hal ini. Ia mengutarakan, orang tua harus cermat saat mengasuh dan mendidik anak-anak ketika usianya beranjak remaja.

“Sebenarnya, ada beberapa jawaban mudah dalam mengasuh remaja. Perlu lebih banyak waktu dan energi untuk mengetahui mengapa anak berperilaku seperti itu, apa yang sedang diperjuangkan dan kemudian menemukan jawaban seputar solusi yang harus dilakukan,” jelasnya.

Tak hanya itu, O’Donnel juga menjelaskan, selama ini para orang tua cenderung termakan mitos saat mengasuh remaja. Mitos ini yang kemudian menjadi patokan untuk beranggapan pola asuh dianggap paling tepat.

Lantas, apa saja mitos-mitos tersebut? Dinukil dari liputan6.com, inilah mitos-mitos yang dimaksud oleh O’Donnel:

1. Membicarakan Seks dengan Anak Justru Membuat Anak Termotivasi Melakukannya

Lea Lis, Psikolog anak dari New York mengatakan, selama ini orang tua terjebak dalam pola pemikiran yang salah seputar mendidik anak tentang seks. Orang tua akan berpikir, membicarakan seks dengan anak remaja hanya akan membuat mereka semakin termotivasi melakukannya.

Padahal, berdasar studi psikologi di tahun 2019 berbicara tentang seks kepada remaja bisa mengurangi kemungkinan remaja melakukan perilaku berisiko. Namun, untuk bisa melakukan hal ini orang tua harus mampu mengemas pembicaraan menjadi sebuah diskusi yang sehat.

2. Remaja Laki-Laki Selalu Nakal

Percaya atau tidak, gagasan ini bahkan masih melekat sampai sekarang. Padahal, steorotype ini sudah sangat ketinggalan zaman.

Lis bahkan menganggap pola pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya benar, namun juga melanggengkan mitos tentang gender. Apabila orang tua tetap memperlakukan remaja laki-laki dengan steorotype seperti ini, maka hormon anak akan melunjak dan kadar testosteron bisa meningkat 10x lipat.

3. Hukuman Fisik Dianggap Lebih Efektif

Penting diketahui, sebenarnya hukuman fisik yang diberikan oleh orang tua kepada anak remaja justru mengikis kepercayaan anak terhadap orang tua. Bahkan, anggapan ini dikuatkan dengan adanya penelitian di tahun 2006.

Penelitian tersebut menjelaskan, remaja yang terlibat dalam perkelahian, berasal karena orang tua mereka menggunakan hukuman fisik sebagai metode pendisiplinan. Sedangkan remaja yang tidak terlibat, justru tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik. (trj/ono)