Giat Manja Ngerumat Bumi Tengger, Inisiatif AQUA Keboncandi dengan Yayasan Satu Daun dalam Peringatan Hari Air Sedunia

1083
RUMAH EDUKASI: Serah terima Rumah Edukasi konservasi Kepala pabrik Aqua Keboncandi, M. Fahroni kepada Kepala Desa Tosari didampingi Muspika Kecamatan Tosari.

 

Tosari (Wartabromo.com) – AQUA Keboncandi kembali menunjukkan perhatiannya terhadap konservasi air. Untuk menjaga ekosistem dan keseimbangan alam, AQUA Keboncandi menyerahkan dan melakukan penanaman bibit secara simbolis.

Untuk mewujudkan hal tersebut, AQUA Keboncandi bermitra dengan Yayasan Satu Daun. Mereka menyerahkan 15.000 bibit pohon endemik. Diantaranya, pohon cemara, mentigi, edelweiss dan kesek. Kemudian, bibit pohon buah, seperti Alpukat, matoa, cengkeh, pete, mangium dan kopi.

Selain itu, bantuan juga diwujudkan dalam pembuatan 10 buah sumur resapan biber (bijak berplastik) berbahan recycle plastik program konservasi air. Bantuan diberikan kepada Komunitas Bala Daun yang merupakan kelompok binaan sejak program konservasi masuk di wilayah Kecamatan Tosari serta di desa Jimbaran Kecamatan Puspo.

Baca Juga :   Kala Relawan Punguti Sampah di Bromo
KONSERVASI: Penanaman pohon dilakukan M. Fahroni bersama Ketua Bala Daun.

Penyerahan dan penanaman bibit pohon secara simbolis disaksikan Muspika Kecamatan Tosari dan Kepala Desa Tosari dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Penyerahan pondok edukasi konservasi, bibit pohon serta tanam pohon kepada kelompok binaan bala daun bertempat di Dusun Wonomerto Desa Tosari Kecamatan Tosari. Rangkaian kegiatan konservasi sumber daya air ini merupakan konsistensi AQUA Keboncandi dalam menjaga konservasi sumber daya air yang merupakan kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya.

DEMI KELESTARIAN AIR: Kapolsek Tosari bersama Direktur YSD dan Kepala Pabrik AQUA Keboncandi berfoto bersama usai kegiatan penanaman dan penyerahan bibit pohon.

Kepala Pabrik AQUA Keboncandi, M. Fahroni dalam sambutannya menyampaikan salah satu wujud konservasi AQUA Keboncandi untuk menjaga kualitas dan kuantitas air adalah konservasi dengan menerapkan pendekatan ‘Hulu-Tengah-Hilir’.
“Giat ini bertujuan untuk menghijaukan kembali daerah yang menjadi sumber resapan air yang ada di recharge area (wilayah hulu) serta mengembalikan kebaikan alam yang telah kita nikmati selama ini,” ujarnya.

Baca Juga :   Hutan di Puspo Rusak, Komitmen Pemerintah dan Swasta Dipertanyakan

Diono, Direktur Yayasan Satu Daun menyampaikan salah satu cara pengelolaan sumber daya air adalah melalui konservasi. Konservasi air harus dilakukan dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat dan sebanyak mungkin memasukkan air limpasan ke dalam tanah. Hal ini untuk menabung air dan juga mengurangi resiko banjir.

“Konservasi air sangat penting dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang makmur. Giat Manja ngerumat Bumi Tengger bermakna untuk mengajak menanam dan menjaga ekosistem di wilayah hulu baiknya dilakukan secara multistakeholder,” tegas Diono. (day/*)