Pengusiran Jemaah Bermasker dan Kegagalan Pemerintah Melakukan Edukasi Pandemi

538
Petugas masjid Manarul Huda, Kelurahan Gempeng, Bangil memeriksa suhu tubuh jemaah yang hendak mengikuti shalat Idul Fitri, Minggu (24/05/2020).

 

Oleh: Widya Andriana

SEBUAH video yang menggambarkan pertengkaran antara pengurus masjid dengan seorang jemaah di sebuah masjid di kawasan Bekasi, Jawa Barat viral belakangan ini.

Dalam rekaman berdurasi 2 menit 20 detik itu, terlihat sang pengurus yang terlibat perdebatan dengan si jemaah lantaran mengenakan masker. Sementara di masjid setempat, jemaah yang mengenakan masker dilarang masuk.

Sang jemaah rupanya keukeuh. Begitu juga sebaliknya. Sampai kemudian, pihak pengurus masjid mengusir si jemaah lantaran mengabaikan aturan pengurus masjid.

Pihak pengurus berdalih, larangan penggunaan masker dibuat para ulama. Yang itu berarti memiliki derajat lebih tinggi ketimbang aturan penggunaan masker di berbagai tempat yang dibuat pemerintah.

Sontak, video yang diunggah sejak beberapa hari lalu itu pun ramai di jagad media sosial. PadaWid platform twitter misalnya. Video tersebut bahkan sudah dilihat sebanyak 347 ribu kali dan di-retweet sebanyak 1.922 kali.

Beragam komentar pun berdatangan dari warganet. Sebagian besar mengecam dan menyayangkan sikap pengurus masjid yang jelas-jelas menolak penggunaan masker di lingkungan masjid. Padahal, penggunaan masker merupakan bagian dari penerapan protokol kesehatan dalam rangka mencegah penularan-penyebaran Covid-19.

Namun begitu, tidak sedikit pula yang mengapresiasi dan mendukung sikap pengurus masjid. Alassnnya, mereka meyakini bahwa pandemi yang tak kunjung berakhir ini tak lebih dari konspirasi dunia.
Yang patut menjadi perhatian, peristiwa seperti itu tidak hanya terjadi di Indonesia.

Pun Amerika, baru-baru ini ramai karena beberapa orang melarang penggunaan masker ketika melakukan pujian di gereja.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin pemikiran semacam ini masih ada meski setahun sudah pandemi berlangsung dan banyak korban jiwa? Apa yang salah?

Menurut data dari Satgas Covid Indonesia yang dilansir dari laman covid 19.co.id per 2 Mei 2021 lalu, kasus keseluruhan di Indonesia sebanyak kasus positif 1.677.174, sembuh 1.530.178, dengan jumlah meninggal mencapai 45.716.

Sebelum wabah yang bermula dari Tiongkok ini terjad, sejarah sudah mencatat berbagai kejadian wabah di belahan dunia. Termasuk, dalam sejarah Islam yang mencatat kejadian wabah di wilayah Timur Tengah.

Banyak ulama yang menuliskan kejadian ini dalam berbagai karyanya. Baik melalui pendekatan medis, teologis maupun magis.

Kalangan ulama yang menuliskan pengalaman menghadapi kejadian wabah ini salah satunya adalah Ibnu Abi Hajalah dalam karyanya Daf’al-Niqmah (1362), artinya Maut Hitam sudah merebak di Eropa dan Timur Tengah.

Abi Hajalah juga mengisahkan bagaimana putranya meninggal karena wabah itu dan menyebut putranya mati syahid berdasar hadits nabi. “Aku menguburkannya di dekat seorang wali,” mengutip catatan Abi Hajalah.

Dalam catatannya itu, Abi Hajalah juga menjjelaskan bagaimana menghadapi orang yang meninggal karena terkena wabah. Berikur cara menguburkannya.
Ulama lain Ibnu Hajar al-Asqalani juga mencatat dalam Badrul Ma’un karena kehilangan tiga putrinya. Bahkan putri sulungnya tengah hamil ketika meninggal karena wabah.

Dalam karyanya itu, ia juga menjelaskan apa perbedaan wabah dan tha’un. Wabah adalah penyebutan secara umum. Sedangkan tha’un lebih spesifik dalam penyakitnya.

Di masa abad ke-6 ulama juga merupakan ahli medis ini yang mendasari juga lahirnya karya medis kemudian berlanjut ke riset-riset hingga saat ini.

Bencana wabah tak semata hanya kutukan Tuhan. Terbukti ulama dan keluarganya pun bisa terjangkit wabah. Pemahaman seperti ini masih saja terjadi saat ini.

Menolak melakukan prokes bahkan mempercayai betul bahwa wabah ini takkan sanggup menjangkiti mereka yang taat beribadah. Padahal sudah terbukti banyak ulama besar, pimpinan ponpes yang terjangkit bahkan meninggal dunia.

Stigma bahwa terjangkit wabah adalah buah dari kutukan Tuhan membuat wabah ini tak kunjung usai. Disamping itu kebijakan-kebijakan gagap penyelenggara negara makin menjadikan seleseinya pandemi ini bak panggang jauh dari api.

Menganggap wabah ini sebagai bencana alam atas kutukan Tuhan tentunya akan memparah kondisi, menyulitkan tracking dan tracing karena apabila ini sebuah kutukan kenapa para alim ulama dan keluarganya juga terjangkit. Pemahaman akan sains dan sejarah mutlak di perlukan, tak hanya iman semata.

Contoh viralnya pertengkaran hingga berbuntut pengusiran jamaah masjid karena mengenakan masker adalah bukti bahwa pemerintah telah gagal. Pemerintah gagal memahamkan publik bahwa wabah bukanlah kutukan.