Maket-Diorama Bikinan Pemuda Pasuruan ini Tembus Kalimantan hingga Sumatera

1306
“Mulai SMA saya memang suka membuat miniatur-miniatur, tapi bahannya ya seadanya. Nah, setelah lulus sekolah tiba-tiba saya dapet pesanan membuat miniatur sekolah dengan harga sekitar Rp10 juta.”

Laporan : Akhmad Romadoni

DEDY Surya Mubarok (23), pemuda asal Kelurahan Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan ini sudah jadi jutawan di usia muda. Ia sudah bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah dari hobi visualisasi tiga dimensi.

Berada di ruang kerja dengan sekat tak sampai dua meter itu Dedy berkreasi. Mulai dari bahan baku PVC, cat, alat pemotong dan komputer. Masih di ruang sempit itu, ia mulai membentuk lembaran PVC menjadi ukuran kecil dan beragam.

Bentuk yang dibuat menyerupai pintu rumah, jendela, dan atap dengan ukuran tentu jauh lebih mini dibandingkan bentuk asli.

Dedy terbilang mahir membuat miniatur bangunan atau sering disebut dengan maket ataupun diorama. Padahal kemampuan yang dimiliki Dedy otodidak saja.

“Mulai SMA sudah senang bikin miniatur-miniatur, tapi dengan bahan seadanya,” kata Dedy.

Sejak duduk di bangku SMA, ia sering melakukan melihat cara membuat miniatur-miniatur bangunan mini. Saat itu, ia hanya bermodalkan kertas karton saja untuk membuat diorama.

Dari sering mengikuti komunitas diorama di facebook, Dedy mencoba lebih mempertajam kemampuannya. Sebuah pameran yang digelar di P3GI pada tahun 2016 lalu, menjadi titik mangsa bagi Dedy untuk merintis usahanya.

“Waktu itu kan masih belajar, jadi hasilnya juga masih kacau,” terangnya.

Pemuda ini mulai memantapkan hobinya untuk dijadikan pundi-pundi rupiah setelah mendapatkan pesanan sederhana. Seperti miniatur warung, kios, hingga mobil.

Hasil yang paling terlihat ketika Dedy diminta membuat maket sekolah. Dedy mematok harga Rp10 juta untuk tiga bulan pengerjaan.

“Jadi seluruh desain sekolah saya kerjakan,” tuturnya.

Ia merampungkan maket bangunan dengan tiga lantai selama tiga bulan itu sendirian. Kala itu, pemuda 23 tahun ini sempat kebingungan, sebab modal, peralatan, dan bahan baku yang dipunyai masih belum lengkap. Air brush di antaranya.

“Dulu belum punya, akhirnya untuk mewarnai maketnya saya garap ke orang lain air brush-nya,” ungkap Dedy.

Menurutnya, membuat maket atau diorama tak jauh berbeda. Keduanya sama-sama memerlukan ketelitian. Sebab, miniatur yang dibuat harus benar-benar sesuai dengan desain. Memiliki bentuk yang presisi, menampakkan detail objek.

“Bedanya kalau diorama lebih real, misalnya warna agak kekusaman. Kalau maket yang untuk konstruksi memang dibuat detail, tapi rapi,” katanya.

Saat ini, diorama sangat digemari pasar lokal maupun nasional. Diorama yang dimaksud yakni tidak memberikan gambaran mengenai objek bangunan tanpa melihat objek aslinya. Melainkan hanya menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan.

“Sekarang yang paling banyak pesanan ya diorama. Karena memang untuk kolektor miniatur,” kata Dedy.

Meski baru lima tahun melakoni usahanya, Dedy sudah seringkali kebanjiran pesanan. Ia selama ini menawarkan produknya melalui marketplace maupun media sosial.

Pemesannya datang dari berbagai daerah, tak hanya di Jawa. Diorama buatannya bahkan telah sampai ke Kalimantan hingga Sumatera.

“Alhamdulillah bisa sampai pasar nasional, kalau luar negeri masih belum,” katanya.

Untuk harganya pun bervariasi, tergantung skala dan kerumitan. Kalau ukurannya kecil seperti miniatur warung sekitar Rp100 ribu dua biji. Bila ingin bentuk rumah kisaran Rp150 ribu sampai Rp300 ribu-an. (*)

Simak videonya: