Menyibak Strategi Pengusaha Parcel di Lumajang yang Tembus Omset Ratusan Juta Rupiah

1356

“Selama 2 tahun pandemi, omset yang didapatkan terus mengalami kenaikan. Banyak pihak yang tidak bisa mudik dan hanya bisa mengirim bingkisan lebaran ke sanak saudaranya, merupakan peluang.”

Laporan: Maya Rahma

RAMADAN membawa berkah bagi berbagai usaha. Salah satunya sektor usaha parcel hari raya di Lumajang.

WartaBromo menyambangi salah satu galeri usaha parcel dan jasa rangkai Lumajang di jalan Iptu Jama’ari. Terlihat pekerja sibuk mengangkut berbagai jenis parcel ke pikap untuk dikirimkan ke pelanggan.

“Ini adalah tahun ketiga saya bisnis parcel. Alhamdulillah tiap tahun mengalami peningkatan pemesanan,” ujar Shoimah, pemilik Omah Rangkai Lumajang.

Ima -sapaan akrabnya- mengaku, memulai bisnis ini sebatas coba-coba. Mulanya, Ia memberi parcel untuk pelanggan usaha keripik, yang memang cukup lama ditekuni. Berselang waktu, pelanggan keripiknya malah banyak menanyakan harga parcel yang Ia berikan.

“Ya awalnya bingung, orang saya nggak niat jualan parcel. Tapi akhirnya orang-orang yang tanya itu pesan ke kami saat Ramadan,” lanjutnya.

Ibu dari 2 anak ini mengungkapkan usaha “isengnya” ini semakin ditekuni saat pandemi Covid-19. Lebih-lebih saat itu sang suami yang bekerja di biro perjalanan terkena dampaknya.

“Kantor suami saya tutup total selama tiga bulan. Tidak ada pemasukan sama sekali dari sana. Keripik saya juga tidak jalan. Akhirnya saya putar otak mencari usaha yang selaras dengan parcel, yakni merangkai buket bunga, balon, dan uang. Jasa rangkai begitu,” terang Ima.

Bisnis parcel dan jasa rangkai ini tak ujug-ujug berhasil dengan mendatangkan banyak pembeli. Kata Ima, hasil rangkaiannya dulu masih jauh dari kata bagus. Pengerjaannya kurang rapi, bahkan membuat Ima tak percaya diri dibeli pelanggan.

“Saya belajar terus merangkai parcel dan buket itu. Mantengi youtube setiap hari kalau ada orderan supaya hasilnya bagus. Karena dulu itu duh jelek banget hasilnya. Sekarang alhamdulillah sudah layak jual,” ceritanya.

Selain hasil rangkaian yang indah, harga yang ditawarkan Ima pun cukup terjangkau. Yakni mulai dari Rp25 ribu sampai tak terhingga, tergantung permintaan konsumen.

“Kami akhirnya promosi via Facebook, pokoknya memaksimalkan penggunaan sosial media. Saya share di grup-grup. Meski nggak ada yang komen, pasti ada saja yang chat saya,” jelas Ima.

Ternyata bisnis parcel terbilang prospektif. Selama 2 tahun pandemi, omset yang didapatkan Ima terus mengalami kenaikan.

Banyak pihak yang tidak bisa mudik dan hanya bisa mengirim bingkisan lebaran ke sanak saudaranya, merupakan peluang.

“Tahun lalu omzet saya sekitar Rp80 juta. Alhamdulillah tahun ini meningkat. Sampai 20 hari Ramadan, omzet saya sudah tercatat Rp200 juta. Sudah lebih dari 1.000 paket parcel yang kami keluarkan,” terangnya.

Karena membludaknya permintaan, Ima sampai menolak beberapa pesanan yang mendadak. Meski demikian, Ia juga tetap menambah jumlah pekerja.

“Sebelumnya saya kerja sendirian sama suami. Terus sekarang sudah dibantu 5 pekerja lain. Alhamdulillah,” tandas Ima. (*)