19 Tahun Sekali, Siap-siap Menyaksikan Gerhana Bulan Total Merah Super

959
Foto: Dokumen LAPAN.

Pasuruan (WartaBromo.com) – Fenomena alam Gerhana Bulan Total Merah Super bakal terjadi Rabu (26/5/2021). Fenomena alam yang terjadi 19 tahun sekali ini sayang jika dilewatkan.

Kepala Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Pasuruan (LAPAN Pasuruan) Dian Yudha mengatakan, fenomena Gerhana Bulan Total Merah Super merupakan fenomena yang jarang terjadi. Sebab gerhana ini merupakan kombinasi dari tiga fenomena sekaligus.

“Kombinasi dari Gerhana Bulan Total (GBT), Blood Moon atau Bulan Merah, dan Supermoon atau Bulan Super. Dan fenomena kombinasi GBT, Supermoon, dan Bloodmoon ini terjadi sekitar 19 tahun sekali,” terang Dian saat dihubungi WartaBromo, Senin (24/5).

Secara rinci, dijelaskan Dian, Gerhana Bulan Total terjadi ketika Bulan Purnama tertutup oleh bayangan Bumi secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus dengan Bumi di antara ketiganya.

Baca Juga :   Mitos Gerhana Bulan Menurut Masyarakat Jawa

Sedangkan Blood Moon diakibatkan oleh pembiasan cahaya Matahari di atmosfer Bumi sebelum mencapai Bulan. Sehingga atmosfer Bumi membiaskan cahaya dengan frekuensi rendah yang menyebabkan Bulan berwarna merah.

“Dan Supermoon atau Bulan Super atau Bulan Besar, yang terjadi setiap kali Bulan berada pada titik terdekatnya dengan Bumi,” jelasnya.

Ketika terjadi fenomena ini, bulan akan nampak berwarna merah dan lebih besar dari biasanya selama beberapa waktu. Sehingga, tampak indah ketika dilihat dari bumi.

Selain nampak indah, ternyata gerhana bulan total juga memiliki dampak lain. Seperti terjadinya pasang air laut.

“Bisa ada, karena air laut pasang merupakan pengaruh dari tidal force baik dari Matahari, dan juga Bulan, yang pada dasarnya selalu ada setiap waktu di berbagai lokasi. Kesejajaran posisi keduanya dapat megakibatkan arah gaya menjadi lebih seragam dan posisi air laut pasang pun lebih terfokuskan, sehingga lebih tinggi,” urainya, saat ditanya tentang dampak dari fenomena alam ini.

Baca Juga :   Fenomena Langit di Bulan Januari

Bagi masyarakat yang penasaran ingin melihat GBT ini, tak perlu khawatir, fenomena ini dapat dilihat secara kasat mata. Tergantung kondisi langit pada saat itu.

“Semakin minim polusi cahaya dan cuaca cerah, semakin mudah Bulan terlihat,” ungkapnya.

Bagi masyarakat yang hendak melihat gerhana ini secara langsung juga tidak perlu khawatir. Fenomenan ini, kata Dian, aman dilihat dengan mata telanjang.

“Mempertimbangkan cahaya Bulan yang tidak semenyilaukan sinar Matahari, masih aman bagi mata telanjang untuk menyaksikan fenomena ini,” ulasnya.

Secara khusus, LAPAN Pasuruan telah mempersiapkan diri menyambut fenomena langka ini. Pihaknya akan menggelar Live streaming di YouTube LAPAN Pasuruan dan webinar Total SuperBlood Lunar Eclipse dengan Sekolah Menengah Atas rekanan.

Baca Juga :   Warga Bersiap Amati Gerhana Matahari Cincin di Lapan Watukosek

“Untuk nenambah pengetahuan seputar fenomena ini kami sangat menyambut berbagai pihak yang ingin mengadakan kelas online atau pengamatan bersama,” sambungnya.

Nah, untuk warga Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya, yang tak ingin ketinggalan melihat fenomena ini secara langsung, bisa menggunakan fasilitas yang telah disediakan LAPAN Pasuruan.

LAPAN menyediakan 3 teleskop dengan motor penggerak, kamera DSLR dengan motor penggerak serupa, dan 4 teleskop portable lainnya. Pihak LAPAN, kata Dian, sangat mendukung terhadap animo masyarakat, komunitas, atau pihak manapun yang ingin turut menyaksikan Gerhana namun terkendala alat.

“Di sini, kami menerapkan protokol kesehatan seperti pengecekan suhu tubuh, wastafel cuci tangan, masker, hand sanitizer, dan sebagainya, jadi bisa kami upayakan untuk memfasilitasi tamu yang hadir dapat merasa aman dan nyaman,” tandasnya. (oel/asd)