Harga Kedelai Terus Naik, Perajin Tempe: Bisa-bisa tutup

695

Pasuruan (wartabromo.com) – Harga kedelai di Pasuruan masih terus naik. Akibatnya, perajin tempe kewalahan hingga mengaku tak bisa produksi tempe.

Warodi, perajin tempe asal Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan mengatakan, siasat bertahan dalam memproduksi tempe sudah ia lakukan sejak awal pandemi hingga saat ini. Mulai dari mengurangi ukuran hingga menaikkan harga telah ia lakukan.

Mempertahankan kualitas tempe adalah prinsip utama ia berjualan. Namun, saat diterpa pandemi covid-19, usahanya kian menurun.

“Naik terus, perlahan mulai awal pandemi dan belum turun. Biasanya itu, kalau harga naik signifikan nanti harga bisa langsung turun,” ungkap Warodi saat di konfrimasi wartabromo.com, Kamis (3/6/2021).

Pria yang sudah menukuni usaha tempe sejak tahunan itu mengaku, harga kedelai mulai dari Rp6.500 perkilo hingga Rp11.000 belum juga turun.

“Kadang naik Rp500, kadang Rp1000, dan itu belum turun sampai saat ini,” katanya.

Saat ini, ia hanya bisa memproduksi tempe dengan bahan baku kedelai sebanyak 50 kilogram. Namun, sebelum pandemi ia bisa produksi tempe dengan kapasitas kedelai mencapai hampir 1 kuintal. Dari hasil produksinya, laba yang didapatkan tak sesuai harapan.

Untuk per lembar tempe yang ia produksi membutuhkan 1,5 kilogram, dengan rata-rata harga kedelai Rp14.000 – Rp15.000. Ia menjual ke tengkulak dengan harga Rp16.000 hingga Rp18.000 perlembar.

“Untungnya tipis banget mas, Rp2000 kadang Rp3000. Sebenarnya jauh banget dari laba biasanya, kalau seperti ini terus bisa-bisa tutup,” katanya.

Tempe memang sudah menjadi kebutuhan ibu-ibu untuk dijadikan olahan lauk keluarga. Ia biasa menjual tempe ke tengkulak di kawasan Pasar Lawang, Kabupaten Malang dan Pasar Kebonagung Kota Pasuruan. Karenya, ia masih bertahan selagi ia mampu mengondisikan laba dan produksi tempe.

Ada beberapa perajin tempe yang sudah gulung tikar karena harga kedelai tak kunjung turun.”Ada beberapa teman saya yang tutup dan tak produksi karena harga kedelai terus naik,” jelasnya.

Slamet, sesama perajin tempe di wilayah Purwodadi juga mengeluhkan harga kedelai yang terus naik. Di sejumlah toko yang biasa ia kulak, harga kedelai masih mahal.

“Mungkin karena kedelai impor, agak susah jadi mahal,” tutur Slamet.

Sementara itu, harapan dari perajin tempe di Pasuruan saat ini adalah harga kedelai bisa turun. Agar kondisi ekonomi keluarga kembali normal. (don/may)