Begini Cara BPBD Lumajang Waspadai Potensi Tsunami 18 Meter

1155
Pantai TPI Lumajang yang berpotensi tsunami. Gambar saat terjadi abrasi pantai. Foto : BPBD Lumajang.

 

Lumajang (WartaBromo.com) – Baru-baru ini sedang marak diperbincangkan terkait potensi terjadinya Bencana Tsunami di sepanjang pantai selatan, utamanya di wilayah Kabupaten Lumajang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang kemudian memaparkan upaya mitigasinya.

Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ketinggian Tsunami bisa mencapai 18 meter. Hal itu diungkapkan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam webinar Kajian dan Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami di Jawa Timur beberapa waktu yang lalu.

Menanggapi informasi tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Indra Wibowo Leksana mengatakan wilayah pesisir Kabupaten Lumajang memang berpotensi terjadi Tsunami, karena langsung berbatasan dengan laut lepas. Indra menyebut ada 5 kecamatan yang berpotensi terjadi tsunami.

“Kalau kita ada 5 kecamatan karena berbatasan langsung dengan laut lepas, Tempursari, Pasirian, Tempeh, Kunir, Yosowilangun ini yang perlu kita waspadai,”

Selanjutnya, melalui BPBD Kabupaten Lumajang, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya mitigasi. Salah satunya dengan memperkuat Desa Tangguh Bencana (Destana) yang ada di masing-masing wilayah. Dirinya pun sudah memberikan sosialisasi kepada para camat di wilayah tersebut.

“5 kecamatan ini sudah kita kumpulkan ditambah destana, bila itu terjadi kita harus gimana, masyarakat harus gimana, keluarga gimana itu sudah tahu, cuma harus diingat kembali,” jelasnya.

“Semoga dalam waktu dekat, kami diberi keleluasaan untuk melaksanakan sosialisasi dan simulasi bencana,” imbuhnya.

Selain itu, sudah ada beberapa alat Early Warning System (EWS) yang terpasang di beberapa titik untuk memberitahukan kondisi laut sekitar.

Indra menegaskan, sampai saat ini belum ada alat yang mampu mendeteksi kapan pastinya kejadian bencana terjadi. Namun, paling tidak sudah ada kesiapsiagaan masyarakat sekitar untuk mengurangi resiko bencananya.

“Kalau bencana itu pasti terjadi tapi kapan waktunya yang belum pasti. yang kita utamakan itu mitigasinya, pencegahan dan pengurangan resiko bencananya,” pungkasnya. (rul/may)