Ada 10.000 Warga Probolinggo Alami Katarak

677

Probolinggo (WartaBromo) – Ada sekitar 10 ribu warga Kabupaten Probolinggo alami gangguan penglihatan. Mayoritas gangguan penglihatan itu, berupa katarak atau keburaman (opacity) pada lensa mata.

“PR (Pekerjaan Rumah) kita itu ada sekitar 10 ribu sekian yang masih menunggu operasi katarak. Kita mencoba mengejar blacklog 10 ribu pasien itu segera dioperasi,” kata Ketua Komatda (Komisi Mata Daerah) Kabupaten Probolinggo, dr. Mirrah Samiyah pada Rabu, 9 Juni 2021.

Penuntasan target itu, katanya, tidak bisa hanya dipasrahkan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo saja. Melainkan perlu ada kerjasama dengan instansi dan perusahaan swasta. Misalnya dengan memanfaatkan CSR dari PJB Paiton, POMI Energy. Serta NGO lainnya yang konsisten dalam pendampingan kesehatan mata.

“Pendelegasian itu, memungkinkan target operasi katarak dapat dituntaskan dengan cepat. Kalau tidak di tahun ini, mungkin di tahun depan. Karena pada pandemi lalu, kita tidak bisa mengumpulkan mereka untuk dioperasi secara bersama,” kata dokter Mia, begitu ia dipanggil.

Jumlah penduduk Kabupaten Probolinggo menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 adalah 1.172.862. Sedangkan penduduk usia diatas 50 tahun mencapai 244.751. Dari survei bersama Yayasan Paramitra Jawa Timur dan Pemkab Probolinggo, ada 10 ribu warga yang alami kebutaan.

Penduduk yang mengalami kebutaan dilihat dari prevalensi RAAB (Rapid Assessment of Avoidable Blindness) 2016 mencapai 4,4% atau 10.769 jiwa. Kebutaan akibat katarak menurut prevalensi RAAB 2016 mencapai 81% atau 8.723 jiwa. Estimasi jumlah kasus baru per tahun mencapai 20% dengan prevalensi kebutaan akibat katarak sejumlah 1.745 jiwa.

Sedangkan kemampuan operasi katarak di rumah sakit di Kabupaten Probolinggo dalam 5 tahun 5 terakhir. Pada 2016 mencapai 757, setahun kemudian naik menjadi 881. Tetapi pada 2018 turun menjadi 481 dan tahun 2019 mencapai 678. Sementara pada 2020 lalu, turun menjadi 550 orang.

Saat ini, sudah ada 8 desa sehat mata yang terbentuk dengan ratusan kader.

“Nah ke depan, ketika ada waiting list warga miskin yang membutuhkan operasi katarak, maka pemerintah punya pengalaman bagaimana mobilisasi sumber daya, baik antar OPD, LSM maupun dengan perusahaan,” sebut Asyiah Sugianti, pegiat kesehatan mata sekaligus Direktur Yayasan Paramitra.

Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Probolinggo, Arizky Perdana Kusuma menyebut kebutaan itu ada yang secara permanen maupun gangguan penglihatan. Disebabkan faktor genetik alias diturunkan dari orang tua kepada anak. Ada juga karena kecelakaan dan penyakit.

“Banyak rekan-rekan awas (melihat) yang abai dengan kesehatan matanya. Semisal menonton televisi dan smartphone berjam-jam. Hal itu tentu akan mempengaruhi kesehatan retina mata,” sebut pria yang mengalami Glaukoma sejak duduk di kelas IV SD itu. (cho/saw)