Umat Berduka, KH. Nawawi Abdul Djalil “Kyai Besar yang Merasa Kecil”

2976
Wakil Ketua DPRD Propinsi Jawa Timur saat bersama Almagfurllah KH. A Nawawi Abdul Djalil

Berpulangnya KH. A Nawawi Abdul Djalil sang pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Kabupaten Pasuruan adalah sebuah kehilangan besar. Bukan hanya umat Islam di Jawa Timur tetapi juga bagi umat Islam di tanah air.

Ketokohannya melampaui keberadaan beliau sebagai pengasuh pondok pesantren dan Mustasyar (Penasihat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Beliau adalah tokoh yang dapat diterima semua golongan. Hal itu ditunjukkan dengan beragamnya tokoh – tokoh nasional dari beragam kalangan yang sowan ke ndalem beliau di Pondok Pesantren Sidogiri.

Seringkali dengan para tamu, beliau tak segan bergurau menyapa tokoh-tokoh nasional yang mendatanginya.

Hebatnya lagi, para tokoh yang sowan kepada beliau bukan hanya tokoh agama, tapi juga tokoh politik dan pemerintahan. Sikap rendah hati acapkali menutupi sosoknya yang luar biasa. Padahal santri beliau tersebar hampir di seluruh penjuru tanah air.

KH. Nawawi Abdul Djalil adalah kiai besar, yang merasa kecil. Pernyataan itu saya dapatkan dari salah satu sepupu beliau, Mas Nawawy Sa’doellah.

Kiai Nawawi adalah sosok kiai yang cinta ilmu. Beliau selalu memotivasi para santri untuk mengajar, pada saat mereka sudah kembali ke rumahnya.

Dalam beberapa kali kesempatan sowan kepada beliau, saya sering mendapatkan wejangan dan amalan. Seringkali pula saya mendapatkan kisah-kisah tentang kiai dan para wali yang sarat hikmah. Seingat saya beliau paling sering bercerita tentang pamanda beliau, KH Cholil Nawawie.

Kiai Nawawi lahir dan dibesarkan di Pondok Pesantren Sidogiri. Putra dari KH Abd Djalil bin Fadhil, yang syahid pada saat Agresi Militer Belanda pertama, tahun 1947. Ibu beliau Nyai Hanifah putri dari KH Nawawie bin Nurhasan.

KH Nawawie dikenal sebagai kiai yang sezaman dengan Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Keduanya, dalam beberapa catatan, intensif berembuk tentang pendirian organisasi Nahdlatul Ulama.

Menurut beberapa sumber, lambang di logo NU yang dibuat longgar itu ide KH Nawawie, menandakan fleksibilitas. Dalam buku-buku sejarah NU, nama KH Nawawie biasanya tertulis KH Mas Nawawie Pasuruan.

Ditulis oleh : Anwar Sadad, Ketua Dewan Pakar Ikatan Alumni Santri Sidogiri ( IASS)Wakil Ketua DPRD Propinsi Jawa Timur