Melihat dari Dekat Bungkoh Batik Baroyus, Batik Khas Lekok dengan Motif Memikat

883
Masker batik hasil kreasi para pebatik di Pasinan, Lekok.

Pandemi tidak menyurutkan kelompok masyarakat untuk berinovasi. Komunitas perempuan asal Desa Pasinan, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan ini misalnya. Berbagai motif batik yang cukup memikat bahkan berhasil mereka produksi di tengah pandemi.

Laporan: M. Hidayat

SEBUAH showroom berdiri cukup lumayan di desa Pasinan, Lekok. Rumah produksi berukuran 6×8 meter itu rupanya menjadi sarana produksi rumah batik. Untuk menuju rumah batik ini memang relative jauh. Dari mangkrengan menuju ke utara sekitar 8 Km. Dari kantor kecamatan Lekok, anda bisa menanyakan tempat yang dimaksud.

Dari rumah batik itu biasanya diisi sekitar 6 wanita. Mereka dipimpin Nikmatul Jannah. Dari sosok inilah bermula berdirinya sebuah kelompok pengrajin batik bernama “Bungkoh Batik Baroyus”.

DIDUKUNG: Nikmatul Jannah dan komunitas pembatik perempuan asal Pasinan Lekok.

Kata “Bungkoh” memiliki arti Rumah. Disesuaikan dengan nama khas daerah Pasinan Lekok yang rata-rata berbahasa Madura. Sedangkan “Baroyus” merupakan akronim dari Barokah, Rohmat dan Yusro.

Kesatuan kata ini mengandung makna sebuah doa Rumah Batik yang penuh Rahmat. Dan Yusro berarti kemudahan atau berkah.
“Rumah batik ini mulai didirikan tahun 2019,” kata Nikmah bercerita.

Ia mengaku berhasil mengajak 6 orang warga sekitar yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dari mulai memberi pengetahuan seputar batik, hingga menorehkan mallam pada mori membentuk dan menciptakan motif berbeda dari biasanya.

Motif yang paling banyak diminati bervariasi. Mulai motif daun kelor maupun ikan. Ada juga beberapa motif mangrove, manga dan yang lain. Nikmah menuturkan hal ini merupakan upaya untuk mengangkat ciri khas budaya lokal sekitar yang berada di pesisir laut dan banyak ditumbuhi tanaman kelor dan mangrove. Bahkan, kelor di Lekok sudah mulai banyak diminati warga karena bernilai ekonomis.

“Saya sering ikut pameran. Sebelum pandemi, kalau ada kenduren mas atau pameran luar daerah, saya biasanya ikut,” katanya.

Untuk pembuatan produksi batiknya, Nikmah juga menggunakan pewarna alam yang ramah lingkungan. Pewarna alam yang sering digunakan di antaranya dari unsur mangrove, jalawe, tinggi, tegeran, jambal dan juga seccang. “Pewarna batik yang kami gunakan adalah pewarna alam yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Namanya usaha, tentu saja Nikmah mengakui beberapa hambatan. Mulai dari modal hingga lingkup pemasaran yang hanya menjangkau daerah lokal. Tapi hal tersebut tidak membuat putus asa wanita yang memiliki hobi menjahit ini.

Sampai akhirnya, ia merasa terbantu dengan sentuhan pembinaan PT Indonesia Power Grati POMU. Perusahaan pembangkit listrik yang ada di wilayah timur Pasuruan ini berusaha membantu. Mulai dari rumah produksi, pembinaan, permodalan hingga pemasaran era digital.

 

M. Hariyanto, Supervisor senior keamanan dan humas PT IP Grati POMU mencoba menjelaskan bahwa program rumah produksi batik ini merupakan program rintisan. Untuk mencari potensi warga tentang batik juga tidak mudah.

“Tentu awalnya butuh niatan dan semangat dari diri mereka. Kalau itu sudah kuat, tinggal sentuhan selanjutnya,” terangnya didampingi Akhmad Khayubi, Ahli Muda Community Development.

Program ini menurutnya sudah menjadi roadmap program untuk dikembangkan. Yang terpenting lagi adalah membantu pelatihan, konsultasi, riset hingga pemasaran digital atau e-commerce. Pihak perusahaannya juga sudah mengenalkan produk mereka ke dunia digital.

“Kami ingin nantinya semangat itu bisa terus ditingkatkan oleh mitra binaan kami. Utamanya dalam mengangkat potensi kearifan local. Karena biasanya itu yang banyak dicari,” tegasnya. (*)