Bupati Pasuruan yang Jadi Menteri Belanda Itu Berpulang Jelang Kemerdekaan (4-Selesai)

848
Prosesi pemakaman RAA. Soejono tahun 1943.

Laporan: Miftahul Ulum

RADEN Adipati Ario (RAA) Soejono sampai di penghujung hidupnya. Dikutip dari buku “Di Negeri Penjajah: Orang-orang Indonesia di Belanda 1600-1950” dituliskan, Soejono berpulang pada 5 Januari 1943, di umurnya ke 56 tahun. Ia meninggal karena sakit jantung dan dikubur di London, Inggris.

Kematian Soejono meninggalkan duka mendalam bagi Bangsa Indonesia maupun Belanda. Terbukti, dalam prosesi pemakaman Soejono, jajaran Petinggi Belanda hingga orang-orang Indonesia yang berada Inggris mengantarkan jenazahnya.

Salah satu surat kabar Belanda, Vrij Nederland mengabarkan upacara pemakaman Soejono. Disebutkan, iring-iringan pelayat sebagai berikut, Komisi untuk Australia dan Selandia Baru di Melbourne, de Kon.

Menyusul di belakang jenazah Soejono, duta besar dan menteri tanpa portofolio, Jhr. E. F. M. J. Michiels van Verduynen sebagai wakil dari Ratu Wilhelmina yang tak hadir. Mayor jenderal H. J. Phatf, Inspektur pasukan Belanda di Inggris Raya dan Irlandia Utara sebagai wakil dari Pangeran Bernhard, dan Perdana Menteri Profesor Gerbrandy.

“Prosesi pemakaman juga diikuti oleh semua menteri Belanda.” dinukil dari Vrij Nederland bertanggal 16 Januari 1943.

Sejumlah petinggi tentara Belanda juga hadir, di antaranya Letnan Jenderal J. F. van der Vijver, dari KNIL, Kolonel B. Maurer. Selain itu, angkatan laut kerajaan Belanda juga hadir, diwakili oleh satu detasemen yang terdiri dari sekitar 130 perwira, bintara, taruna. Termasuk para pelaut Indonesia tampak hadir dalam pemakaman.

Duka mendalam juga dirasakan oleh kalangan swasta. Banyak delegasi dari pelayaran Belanda, minyak dan perusahaan lain yang menghadiri pemakaman.

Hal yang cukup miris adalah, saat pemakaman Soejono, tidak satupun anggota keluarga Soejono datang. “Maklum tidak ada hubungan lalu lintas apapun antara Inggris dengan Eropa daratan yang kebanyakan diduduki Nazi,” tulis Joss Wibisono dalam Kisah Keluarga Soejono Melawan Fasisme, dinukil dari Historia.id.

Duka akibat kepergian Soejono begitu membekas pada jajaran pemerintah Belanda. Sehari usai meninggalnya Soejono, Perdana Menteri Dr. P.S. Gerbrandry menyampaikan pidatonya atas meninggalnya Soejono dalam sebuah rapat Menteri.

“Kemarin sore kami diberitahu bahwa sesama Anggota Menteri kami Pangeran Ario Soejono tiba-tiba ditarik dari tugasnya,” kata Gerbrandy dikutip dari Amigo Curacao, tertanggal…

Dikatakan Perdana Menteri, mulai sekarang dirinya akan merindukan orang Jawa yang mulia itu. “Seorang pria dengan budaya dan peradaban yang murni, terhormat, dan mengakar,” kenangnya.

Disebutkan, Gerbrandy akan merindukan Soejono sebagai wakil rakyat Indonesia, yang demi kepentingannya, rela meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk mengabdi pada Kerajaan Belanda dengan jiwa raganya dan kehormatannya.

PM Belanda Gerbrandy juga menyatakan Soejono sebagai putra sejati rakyat Jawa yang mengerti sepenuhnya menjadi seorang menteri.

“Ia sangat mencintai Bangsa Indonesianya sendiri, tetapi ia juga memahami ikatan yang menghubungkan Belanda di Eropa dengan Hindia Belanda,” ungkapnya.

Soejono dengan lihai dan bijak, kata Gerbrandy, bisa menghubungkan dua bangsa hebat (Belanda-Indonesia) dan meninggalkan kesan mendalam pada semua.

Dalam penyampaiannya mengenang Soejono, PM Belanda juga menyebut sejumlah posisi penting yang dilakoni Soejono. Namun, rahasia terbesar dari berbagai kebijaksanaan yang telah membuat hidup begitu kaya, terletak pada kepribadian Soejono.

Berangkat dari putra bangsawan Jawa, sesama warga yang setia, menteri yang setia dan kolaborator. “Di atas segalanya seorang teman yang tak terlupakan, maka dengan sepenuh hati kami berharap dia kembali ke tanah air tercinta di pangkuan keluarga yang penuh kasih,” tambah Brandy dalam pidatonya.

“Hati kami tertuju padanya dan lebih dari sebelumnya. Kepada rakyatnya. Sejarah akan menghormati Soejono sebagai salah satu yang terbaik dari rakyatnya di masa sulit. Ratu (Wilhelmina, Red) dan Pemerintah mengalami kehilangan yang tampaknya tidak dapat diperbaiki. Kami tidak akan pernah melupakan Soejono dalam pekerjaan kami selanjutnya,” kata Gerbrandy menutup pidatonya, diiringi tepuk tangan berdiri para menteri.

Raden Adipati Ario Soejono, sang pangeran telah lama tiada. Semangatnya dalam mengabdi, kecerdasannya, dan kemampuannya dalam pekerjaannya terkenang. Lalu, apakah ia layak disebut pahlawan? Sejarah yang bicara. (asd/selesai)