Cerita Perajin Besek, Tetap Eksis di Era “Bungkus Plastik”

879

“Sejak 10 tahun lalu saya bikin ini. Mulai harga Rp15 ribu per seratus besek, hingga Rp150 ribu per seratus besek sekarang. Ada aja pesanan sampai sekarang”
Laporan : Akhmad Romadoni
ANYAMAN bambu sebagai wadah atau besek tape, nasi berkat, hingga hewan kurban masih eksis hingga saat ini. Padahal banyak warga yang sekarang sudah beralik ke wadah plastik untuk menyimpan berbagai jenis makanan.
Meski demikian, para perajin besek di Desa Pekangkungan, Kecamatan Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan ini tetap kebanjiran order. Adanya kampanye tidak menggunakan kresek atau plastik di era sekarang ini membuat omzet penjualan besek tetap eksis dan cenderung meningkat tajam.

Setiap harinya, sejumlah warga utamanya ibu-ibu nampak sibuk membuat anyaman bambu yang dibentuk menjadi besek. Ketelitian menganyam bambu sangat diperhatikan betul.

Fatimah (43), seorang perajin mengaku pesanan besek itu selalu ada. Bahkan, ia selalu menyisihkan waktu kegiatan rumah untuk membuat anyaman besek yang digunakan untuk tempat tape.

“Kalau nganggur bikin anyaman bambu ini, dibikin wadah tape,” tuturnya, Senin (27/9/2021).

Kegiatan yang ia tekuni sejak 10 tahun ini tak pernah hilang meski banyak wadah plastik bermunculan. Kebutuhan supplier besek di Pasuruan masih tetap ada. Terbukti dengan setiap minggunya, ibu-ibu ini menyetor 100-200 besek. Di kampung tersebut ada sekitar 10-13 ibu-ibu yang membuat besek

“Setiap minggu biasanya 200 besek lebih,” lanjutnya.

Ia memilih bertahan membuat anyaman bambu itu karena membantu perekonomian keluarga, untuk biaya sekolah anak hingga kebutuhan dapur.

Sugiono (53) suami Fatimah mengatakan, dengan bantuan dari istrinya tersebut bisa mengurangi beban di keluarganya. Sebab, penghasilannya sebagai sopir saat pandemi covid-19 tak bisa diandalkan. Bahkan saat ini, ia hanya bisa bekerja serabutan dan membantu istri untuk mencari hingga membuat bahan utama pembuatan besek tersebut.

“Cuma sopir, pandemi ini membuat ekonomi keluarga kewalahan, untung masih ada istri yang membantu,” ujar Sugiono.

Seminggu 2-3 kali, Ia pergi ke hutan untuk mencari bambu yang sudah tak terpakai. Pria ini lantas memotong tipis-tipis bambu hingga siap untuk dijadikan bahan baku. Sekali mencari bambu, bisa digunakan untuk membuat 70-90 besek.

Penghasilan Fatimah pun bisa mencapai Rp300 ribu – Rp450 ribu per 300 besek tiap minggunya. Ia mengaku akan terus bertahan membuat besek.

“Sejak 10 tahun lalu saya bikin ini. Mulai harga Rp15 ribu per seratus besek, hingga Rp150 ribu per seratus besek sekarang. Ada aja pesanan sampai sekarang,” ucap Fatimah sambil tersenyum saat ia menganyam bambu tipis itu.

Sebab menurutnya, sumber daya alam (SDA) bambu sebagai bahan baku tidak akan pernah habis. Bahan baku tersebut akan terus ada dan bisa diolah. (*)