Capaian Vaksinasi di Semampir di Bawah Target, Diduga Data Tak Sinkron

611

Kraksaan (WartaBromo) – Capaian vaksinasi di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo masih di bawah target. Selain faktor merek vaksin, capaian itu dipengaruhi oleh tidak sinkronnya data.

Hal itu diakui oleh Lurah Semampir, Khairuddin. Berdasarkan data per 12 Oktober 2021, capaian vaksinasi dosis pertama sebanyak 1.321 dari target 3.600 warga. Rinciannya 915 dosis pertama dan 406 dosis kedua. Dibanding 4 kelurahan lainnya di Kecamatan Kraksaan, Semampir berada di urutan kedua terbawah.

Tepatnya di bawah Kelurahan Kraksaan Wetan yang mencapai 2.767 dengan dosis pertama 1.672 dan dosis kedua 1.095; Patokan sebanyak 1.775 dengan dosis pertama 1.238 dan dosis kedua 537; Sidomukti mencapai 1.430, 846 dosis pertama dan 584 dosis kedua.

Namun, di atas Kelurahan Kandang Jati Kulon yang tercatat baru 921 warganya divaksin, dengan rincian 662 dosis pertama dan 259 dosis kedua.

“Ya sekitar 28 persen, data itu belum termasuk hari yang masih dalam proses vaksinasi, datanya belum masuk,” ujarnya di sela-sela vaksinasi di Kelurahan Semampir pada Rabu, 13 Oktober 2021.

Khairuddin menyebut ada banyak faktor yang membuat rendahnya capaian vaksinasi. Salah satunya yakni faktor mata pencaharian warga Kelurahan Semampir. Ia mengatakan lebih dari 40 persen penduduknya bekerja di luar kelurahan. Warga Semampir banyak yang menjadi ASN, tenaga kesehatan, guru, polisi, tentara, PLTU, pegawai swasta. Mereka umumnya sudah divaksin di tempat kerjanya masing-masing.

“Meski mereka sudah divaksin, namun tidak tercatat di Puskesmas Kraksaan. Kalau yang bekerja di dalam Kecamatan Kraksaan, masih tercatat. Fakta itu, kami temukan ketika kami door to door (rumah ke rumah) untuk mengajak vaksin, mereka punya sertifikat vaksinnya. Saya berharap itu, ada sinkronisasi,” lanjut ia.

Faktor kedua adalah pemilihan merek vaksin. Warga Kelurahan Semampir lebih suka mendapat suntikan vaksin merek sinovac. Dibanding merek astrazeneca, yang menurut warga banyak menimbulkan efek samping. Ketika ada vaksinasi yang dipusatkan di kantor kelurahan, warga masih bertanya jenis vaksin yang dipakai.

“Katanya bereng (sakit) kalau pakai vaksin itu. Pernah kami hadirkan ratusan warga untuk divaksin secara bertahap, ternyata ada puluhan warga tidak lolos skirining, karena ketakutan saat tahu akan memakai astrazeneca,” tutur ASN yang berdomisili di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan itu.

Ia juga mengaku tak bisa memberikan reward kepada warga yang mau divaksin, seperti yang biasanya dilakukan di desa lain.

“Kami juga tidak dapat mengiming-imingi warga dengan bansos, layaknya desa yang menggunakan dana desa (DD) sebagai pemancing antusias warga untuk divaksin. Sehingga memang perlu kesadaran warga dan sinkronisasi data yang ada,” ungkapnya.

Salah satu lansia, Bambang mengaku, dengan kesadaran sendiri datang untuk divaksin di kantor kelurahan. Semula ia takut dengan rumor negatif vaksin yang beredar di masyarakat. Di mana ia mendengar rumor, bahwa setelah 2 tahun divaksin akan mati.

“Awalnya takut, tetapi kemudian saya mendengar penjelasan dari pak lurah. Ya terkait manfaat vaksin ini pada kekebalan tubuh terhadap korona. Dari penjelasan itu, saya yakin untuk melindungi diri dengan cara disuntik vaksin,” tutur lelaki berusia 70 tahun tersebut.

Agar capaian vaksinasi di Kabupaten Probolinggo melampaui persyaratan Inmendagri, pemerintah daerah terus menggalakkan program vaksinasi. Misalnya dengan menggandeng komunitas-komunitas, seperti pesantren dan lembaga pendidikan.

Tentunya warga juga diimbau agar tetap disiplin protokol kesehatan (prokes). Semisal menggunakan masker, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan. Sebagai upaya menghentikan penularan Covid-19. (saw/saw)