Vaksinator Berjuang Atasi Kendala Bahasa Daerah Saat Vaksinasi Lansia

521
Vaksinator Berjuang Atasi Kendala Bahasa Daerah Saat Vaksinasi Lansia

Kademangan (wartabromo.com) – Bahasa Madura menjadi salah satu faktor penghambat vaksinasi di Kota Probolinggo. Berkat kegigihan petugas, capaian vaksinasi lansia menyentuh 45 persen dan berada di level 2 PPKM.

Vaksinator lapangan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKP2KB) setempat, dokter Sisca menyebut, kendala bahasa ditemui oleh petugas di lapangan. Maklum warga Kota Probolinggo adalah campuran Suku Jawa dan Madura atau Pendalungan. Sementara banyak petugas yang tidak menguasai 2 bahasa tersebut.

“Nah, di sini, kadang kami terkendala bahasa. Mereka tidak bisa bahasa Indonesia, sementara kami juga tidak bisa bahasa daerah (Madura),” kata Sisca, Rabu (24/11/2021).

Untuk menyiasati itu, dirinya bersama nakes lain, harus meminta pendampingan warga lokal atau translator. Sehingga kendala komunikasi bisa diatasi.

Namun tak sampai di situ, kendala lain yang lebih krusial muncul. Kendala lain proses vaksinasi untuk lansia adalah riwayat kesehatan. Yakni komorbid atau penyakit bawaan yang tidak mungkin untuk dilakukan vaksinasi. Hal itu diketahui saat skrinning untuk mengetahui riwayat kesehatan calon penerima vaksin. .

Bagi lansia yang diantar sanak saudara atau kerabat, rata-rata bisa menjelaskan penyakit apa saja yang diderita selama minimal kurun waktu enam bulan terakhir. Tapi banyak juga lansia yang datang seorang diri.

“Setelah beres masalah bahasa, kini masalah lainnya muncul. Soal riwayat kesehatan calon penerima vaksin ini,” imbuh dokter di Puskesmas Ketapang ini.

Ketika vaksinator menanyakan soal riwayat kesehatan, banyak yang sudah lupa. Juga kesulitan menjelaskan penyakitnya apa. Sehingga tim vaksinator harus bisa menakar dan menentukan apakah calon penerima vaksin ini bisa disuntik vaksin atau tidak.

Kendala itu, dibenarkan oleh Mat Siri, salah satu warga Kecamatan Mayangan. Ia menyebut tak faham apa yang disebut vaksinasi atau Covid-19. Hanya dengar-dengar dari tetangga terkait bahayanya.

Enggi tak oneng, can mon vaksin bisah sakek, bisah mateh. Alhamdulillah, marenah e vaksin guleh tetep sehat (Iya tidak tahu, katanya kalau divaksin bisa sakit, bisa mateh. Alhamdulillah, setelah divaksin saya tetap sehat),” tuturnya dalam Bahasa Madura.

Capaian vaksinasi di kota berjuluk Kota Bayuangga itu, cukup bagus. Per 21 November 2021, dari total target sebanyak 182.182, tercapai 137.717 orang atau 75,6 persen pada dosis 1. Sementara untuk dosis 2, menjangkau 1. 108.051 jiwa atau 59.3 persen.

Untuk vaksinasi lansia, dari total target lansia 20.365, capaian tahap 1 sebanyak 9.205 atau 45,2 persen. Sedangkan capaian vaksinasi tahap 2, sebanyak 5.522 orang atau 27,1 persen.

Pemkot Probolinggo pun mengambil langkah dengan langsung turun ke perkampungan. Untuk merangkul, mengedukasi dan memberikan informasi yang tepat bagi para lansia ini. Termasuk menepis bayang-bayang ketakutan atas kabar hoaks vaksin.

“Ketakutan warga terhadap vaksin Covid-19 merupakan buntut dari isu-isu hoaks yang tidak dapat dipertangungjawabkan kebenarannya. Vaksinasi adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Agar tidak terpapar virus corona dan terbukti aman bagi semua kalangan,” kata Wali Kota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin.

Wali Kota Hadi juga berpesan pada para lansia, untuk meneruskan informasi yang benar terkait vaksinasi ini, ke masyarakat sekitar. Khususnya yang belum melakukan vaksin. Agar kekebalan kelompok (herd immunity) tercipta dan mereka terlindungi. (lai/saw)