Beredar Video Daging Ayam BPNT Bau

1266
Beredar Video Daging Ayam BPNT Bau

Krucil (WartaBromo) – Sebuah video tentang daging ayam bantuan sosial (Bansos) bau beredar di media sosial. Gambar ini beredar di media sosial warga Probolinggo.

Video amatir itu berdurasi 1 menit 20 detik dibagikan secara berantai di WhatsApp. Terlihat ada seorang wanita dan 2 pria di dekat daging ayam dengan wadah styrofoam yang dibungkus plastik. Ada juga butiran telur dan 1 bungkus daging lainnya.

Guh meng beceng onggu nekah gi (Guh memang bau betul ini ya),” suara pria dengan Bahasa Madura sambil membuka bungkus daging itu.

Ucapan pengambilan video itu dijawab oleh wanita di depannya “Beceng (Bau),” tambahnya.

Selanjutnya tangan pengambil video terus mencoba membuka bungkusan sambil berdialog dengan wanita itu.

Berikut dialog antara mereka:

Tak ebuengah nekah ten (Tak dibuang ini); kolop pole cak (Rebus lagi cak) begi ajem, begi koceng (bagi ayam, bagi kucing); gi mon korang yakin sabek ka elongah se melleh mon gik korang yakin, jekla reng kenik pakanik engak riah (ya kalau kurang yakin taruh dihidungnya ya membeli jika kurang yakin, orang kecil dikasi makan kayak ini); san bereng ekocak korona (setelah sakit dibilang korona)”.

Dari penelusuran WartaBromo, video itu berlokasi di Dusun Tenggir, Desa Plaosan, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Bahan makanan itu, merupakan bahan pangan dari program BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai). Penerimanya diketahui bernama Nurhayati yang berdomisili di RT 04 RW 02.

Edy Santoso selaku Sekretaris Desa (Sekdes) Plaosan membenarkan video itu. Terjadi pada pencairan BPNT Oktober. Menurutnya permasalahan sudah selesai, karena pihak e-Warong langsung menggantinya. Setengah kilogram daging ayam diganti dengan 1 kg telur.

“Ada 5 orang waktu itu, tapi langsung diganti dengan nilai yang lebih. Sayangnya tidak didokumentasikan dan yang beredar hanya yang video itu (daging bau),” kata Edy ketika dikonfirmasi WartaBromo pada Jumat, 26 November 2021.

Ia meyakini kejadian daging ayam berbau busuk, bukan karena kesengajaan dari pihak e-Warong di Desa Plaosan. Sepengetahuannya, kata Edy, pemasok bansos menyembelih ayam secara mandiri. Tidak membeli daging ayam dari pihak lain.

Edy menduga bau itu, timbul karena proses penyimpanan dan distribusi. Pasca disembelih, daging tersebut disimpan di lemari pendingin (Freezer). Setelah diambil oleh ketua RT, ditaruh di area terbuka dan bukan lemari pendingin.

“Penerima menitipkan kepada ketua RT untuk mengambilnya. Setelah dibawa ke dusun itu, baru diambil sore harinya oleh penerima. Mungkin itu karena kepanasan, hingga akhirnya bau,” duga ia.

Di Desa Plaosan ada sekitar 570 warga yang menerima BPNT. Sebanyak 494 orang mencairkan di e-Warong yang asa di Desa Plaosan. Sisanya mencairkannya di luar desa atau kecamatan yang paling dekat aksesnya.

Di desanya, ujar Edy, banyak warga menitipkan pengambilan sembako BPNT ke perangkat desa, kepala dusun atau RT. Mengingat medan dan jarak tempuh sangat jauh. Juga terkendala infrastruktur jalan yang masih berupa jalan telasah.

“Dari dusun itu (Tenggir) ke e-Warong berjarak sekitar 5 kilometer. Itupun naik turun jalan yang curam. Sehingga banyak warga yang menitipkan ke RT,” tandas tamatan madrasah aliyah itu. (saw/saw)