Mundur dari Pimpinan Bank, Pasutri ini Sukses Jadi Perajin Mutiara

580
Mundur dari Pimpinan Bank, Pasutri ini Sukses Jadi Perajin Mutiara

“Saya memilih resign menjadi kepala cabang di bank swasta. Itu banyak cobaannya, dulu sempat ada penolakan dari keluarga, sempat dimarahin juga. Tapi, sekarang alhamdulillah, saya sudah punya ratusan reseller dari seluruh Indonesia.”

Laporan : Akhmad Romadoni

PASANGAN suami istri ini nampak sibuk di tempat kerjanya yang berukuran 3×10 meter di Jalan Sultan Agung, Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Mulai dari memantau aktivitas karyawan hingga menerima telepon dari sejumlah customer rutin dilakukan.

Adip Fahrizal (40) dan Krisnisa Septianing (40), mereka berdua adalah pasangan suami istri yang sukses mengembangkan bisnis aksesoris mutiara dari lombok. Batu mutiara tersebut dibentuk menjadi beragam aksesoris. Mulai dari bros, gelang, kalung, cincin, anting, strap, konektor, hingga ring hijab.

Perjalanannya menjadi perajin aksesoris dari mutiara cukup berliku dan panjang. Dirintis sejak tahun 2017 dengan suaminya, Adip masih bekerja di salah satu bank nasional ditempatkan kerja di wilayah Lombok.

Lombok NTT yang dikenal sebagai sentra mutiara dengan kualitas baik di Indonesia, membuat kepindahannya ini didengar oleh teman-temannya di Jawa. Mereka akhirnya meminta Krisnisa untuk mencarikan mutiara khas Lombok.

“Saya ikut suami, kan kerja di bank swasta ditempatkan di wilayah Lombok sana. Kemudian, ada teman-teman saya minta tolong untuk mencarikan mutiara. Dari itu saya langsung ke perajin mutiara,” ungkap Ica sapaan akrapnya, bercerita kepada wartabromo.com, Selasa (30/11/2021).

Mundur dari Pimpinan Bank, Pasutri ini Sukses Jadi Perajin Mutiara

Karena banyaknya permintaan, Ica pun memutuskan menjadi reseller mutiara. Ia bekerja sama dengan pembudi daya kerang mutiara dan toko mutiara setempat. Usahanya pun lancar. Bahkan, ada salah satu temannya di Semarang sempat membeli mutiara hingga puluhan juta rupiah.

Namun, saat asyik menekuni bisnis tersebut, suami dipindah ke Kota Probolinggo. Suaminya menjadi kepala cabang dan diharuskan tinggal di rumah dinas di wilayah Kota Pasuruan.

Ica mengaku selalu ikut pindah ke manapun suami pindah. Ia lantas memutuskan kembali ke Lombok untuk bertemu perajin mutiara di sana. Selama sepekan ia belajar cara merakit dan membuat mutiara menjadi aksesori.

“Akhirnya saya izin ke suami, ingin ke Lombok melihat secara langsung cara pengerjaan aksesoris yang terbuat dari mutiara lombok itu,” ungkapnya.

Semua pengalaman itu ia rekam dalam video di smartphone. Namun, ternyata saat perempuan asli Semarang ini kembali ke Kota Pasuruan, ia tidak bisa mempraktikkan sama sekali. Sang suami lah yang ternyata lebih telaten untuk menyulap mutiara lombok menjadi aksesoris yang diminati oleh masyarakat.

“Ternyata saya nggak bisa, lebih telaten suami saya,” ucapnya sambil tertawa.

Dari video rekaman istrinya di Lombok, Adip tergerak untuk mempelajari video rekaman yang dibuat Ica. Adip pun berusaha merakit mutiara dengan panduan video yang dibuat istrinya. Akhirnya setiap pulang kerja, Adip merakit aksesori mutiara dan memotretnya untuk di-upload di media sosial (medsos). Sementara Ica memasarkan. Modelnya dibuat bersama-sama.

“Pulang kerja saya harus merakit pelan-pelan, sampe larut malam,” kata Adip.

Keduanya memasarkan produk aksesori mutiara itu ke tetangga dan teman-temannya. Usaha ini terus berkembang. Hingga akhirnya, pada 2018 Adip memutuskan resign atau mengundurkan diri dari profesinya di dunia perbankan. Dia dan istri lantas menekuni penuh usaha itu.

“Saya memilih resign menjadi kepala cabang di bank swasta. Itu banyak cobaannya, dulu sempat ada penolakan dari keluarga, sempat dimarahin juga. Tapi, sekarang alhamdulillah, saya sudah punya ratusan reseller dari seluruh Indonesia,”

Selain berhenti menjadi pimpinan bank, ia juga kehilangan sejumlah aset dinasnya, mulai dari rumah hingga mobil. Keadaan itu pun memaksanya untuk ngekos di Pasuruan.

“Akhirnya saya ngekos, bersama istri dan ketiga anak saya,” tuturnya.

Kini, pemasarannya pun semakin meningkat setiap bulannya. Agar produknya semakin dikenal, keduanya memasarkan door to door produk mereka ke perumahan-perumahan di Kota Pasuruan.

“Pemasaran online dulu masih sulit, beda dengan sekarang. Dulu keliling saya, ke perumahan-perumahan sama istri dengan menggelar tikar di rumah warga,” katanya.

Lambat laun, mereka juga sering mengikuti pameran yang digelar oleh Pemkot Pasuruan, baik di dalam maupuN luar Kota Pasuruan. Produknya pun semakin laris. Mereka lantas semakin memperluas pemasarannya.