“Derik”, Sebuah Pameran Karya Seni dan Dekonstruksi Sakralitas

990
Pengunjung menikmati pameran seni rupa bertajuk "Derik" yang digelar di Pandaan. Foto: Amal Taufik.

Oleh: Amal Taufik

KEGIATAN seni rupa di Pasuruan kembali bergerak setelah sempat mandeg gara-gara pandemi. Tahun lalu di Kota Pasuruan, Komunitas Guru Seni Pasuruan (KGSP) menggelar event tahunan Gandheng Renteng #11. Kemudian di awal tahun 2022, perupa di Pasuruan membukanya dengan pameran bertema “Derik”.

Pameran digelar di K Gallery Hotel, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, sejak tanggal 15 hingga 23 Januari 2022 dan diinisiasi oleh Kuas Pati’s dan Pawitra Project.

Penanggung jawab pameran, Badrie mengatakan, ada 32 seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini. Mereka berkarya melalui berbagai media, mulai kanvas, kayu, hingga beberapa media lainnya.

Badrie menjelaskan, tema “derik” dimaknai sebagai sebuah bunyi. Karya-karya yang ditampilkan di pameran harus bisa berbunyi dan bersuara. Untuk mencapai tahap itu, selama proses seleksi dan pendampingan, para seniman mengalami dialektika yang, kata Badrie, cukup keras. Semua karya dibedah, dikritik, bahkan ditekan di dalam komunitas internal mereka.

“Harus begitu. Target kita agar karya kita semua bisa ngomong. Bisa mencapai standar yang semestinya,” ujar Badrie saat ditemui WartaBromo, Minggu (23/01/2022).

Baca Juga :   Terdampak Pandemi, Manajer Mall di Bali Ini Bangkit berkat "Djajan Ndeso"

Seniman diminta lebih berani dalam berkarya dan keluar dari zona nyaman. Salah satu perupa yang menurut Badrie dalam pameran ini karyanya keluar dari “zona nyaman” adalah Garis Edelweiss.

Garis, kata Badrie, identik dengan karya-karya drawingnya yang detil, rapi, dan masif. Sementara di pameran Derik, Garis memamerkan sebuah karya berjudul “Catatan Dinding” yang, oleh Badrie, dianggap berbeda dari sebelumnya.

“Kami senang sekali. Karya dia di sini lebih ekspresif. Warna yang dia pakai berbeda dari karya-karya sebelumnya. Di sinilah, kami ingin seniman keluar dari zona nyaman,” imbuhnya.

Badrie menyebut, dalam pameran ini, secara umum seniman diminta menerjemahkan Pasuruan. Mereka menyerap inspirasi dari apa-apa yang ada di sekitar mereka untuk kemudian dimaknai dan divisualkan dalam bentuk karya.

Deretan “Jimat” yang turut dipamerkan. Foto: Amal Taufik.

Nuansa lokalitas pun terasa. Sejumlah perupa menampilkan objek-objek pesisir seperti kapal, perahu, dan ikan. Ada juga karya yang mengambil objek candi peninggalan Kerajaan Majapahit, yakni Candi Sumber Tetek yang berada di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Selain itu, beberapa lainnya ada yang terlihat lebih personal dan intim.

Baca Juga :   Jejak Sejarah Bencana Pasuruan di Era Kolonial

Misalnya karya Nofi Sucipto yang berjudul “Throwback”. Dalam karya itu Nofi menampilkan beberapa gambar benda-benda yang pernah populer di tahun 90’an, seperti ponsel Nokia, tamagotchi, tutup botol minuman Coca Cola dan Sprite hingga makanan ringan wafer bermerk Superstar.

Melalui karya itu, perupa seolah ingin mengenang masa lalunya di Pasuruan yang sepertinya cukup indah. Masa-masa di mana ponsel tidak menjamur seperti sekarang. Masa di mana anak-anak bermain tutup botol atau bahkan pada zaman itu juga sempat tren kata-kata yang ada di balik tutup botol.

Selain karya lukisan, beberapa karya instalasi juga dipamerkan di pameran Derik. Setidaknya ada dua yang menarik perhatian, yaitu karya berjudul “Huwa” milik Ghufron dan karya berjudul “Komoditi Jimat” milik Akbar Warisqia.

Dalam karya “Huwa”, Ghufron menggunakan kawat untuk membentuk rangkaian kaligrafi menggantung sebuah kalimat bahasa arab: huwa. Rangkaian kaligrafi itu lantas disorot lampu dan memunculkan bayangan, sehingga tampak artistik. Pada deskripsi singkat karya, Ghufron menulis, “di dalam Al Quran surat Al Ikhlas, huwa dikategorikan sebagai dhomir sya’n, yaitu dhomir yang ditafsiri jumlah setelahnya, untuk menjelaskan agungnya informasi yang bersifat maha.”

Baca Juga :   Tour Guide Bali Banting Setir Jadi Perajin Makrame, Omset Puluhan Juta Sebulan

“Dia ini tukang taman dan hanya lulusan SMP. Karyanya menjadi karya terbaik untuk pendatang baru,” ujar Badrie.

Kemudian yang kedua adalah karya instalasi berjudul “Komoditi Jimat”. Karya ini sangat menarik. Akbar membuat banyak kertas berisikan kata-kata, gambar, simbol, yang identik dengan sesuatu yang biasa disebut jimat atau sikep atau ‘pelindung’ atau apapun. Yang menarik, di karya instalasinya, ‘jimat-jimat’ itu oleh Akbar dibungkus dalam plastik rentengan atau lebih tampak seperti ‘jimat’ dalam sachet.

Jimat, di kalangan masyarakat dipahami sebagai sesuatu yang sakral yang biasanya berisi doa-doa khusus yang dipercaya bisa ‘mendampingi’ pemiliknya. Namun pada karya “Komoditi Jimat”, pemahaman itu hendak didekonstruksi. Jimat hari ini tak lagi sakral seperti itu. Ia dengan mudah dimiliki, dijual belikan, bahkan diecer di warung seperti shampoo, kopi, dan stiker.