Review Film KKN di Desa Penari, Layak Ditonton?

1249

Lumajang (wartabromo.com)Beberapa pekan terakhir, bioskop di Indonesia ramai disambangi penonton. Salah satu penyebabnya yakni tayangnya film KKN di Desa Penari.

Film yang diambil dari kisah nyata ini rilis pada 30 April 2022 lalu. Dalam 9 hari penayangan, film ini telah ditonton oleh lebih dari 3 juta orang. Antusiasme ini salah satunya karena penonton telah menunggu penayangan yang ditunda selama 2 tahun karena pandemi.

Bagaimana sih sinopsisnya?

KKN di Desa Penari adalah sebuah kisah nyata tentang mahasiswa yang melaksanakan program KKN di sebuah desa. Namun tak disangka saat prosesnya, ada banyak kejanggalan di desa tersebut.

Di antaranya ada sejarah yang tersembunyi pada desa tersebut. Sementara kedatangan mahasiswa KKN ini akhirnya memicu sejarah tersebut terungkap.

Baca Juga :   Arrival (2016): Peran Bahasa Dalam Sains

Dari awal kedatangan mahasiswa, sudah banyak ditemukan kejanggalan. Seperti bunyi-bunyian gamelan hingga kendaraan sempat mogok. Perangkat desa pun telah menolak kedatangan mahasiswa ini karena desa belum pernah dibuat KKN sebelumnya.

Akhirnya kejanggalan ini terbukti dan membuat 2 peserta KKN meninggal dunia karena ulah mereka sendiri.

Review Film

Film ini diangkat dari sebuah thread yang ditulis oleh akun bernama Simpleman. Penulis mendapatkan cerita dari anggota KKN yang ingin berbagi supaya bisa dijadikan pembelajaran bersama.

Secara keseluruhan, film dengan durasi sekitar 130 menit ini mampu menggambarkan keseluruhan thread yang ditulis oleh Simpleman. Mulai dari suasana desa, visualisasi desa yang menyeramkan, dan suara-suara pendukung.

Baca Juga :   Find Me in Your Memory, Drakor Seru Tak Banyak yang Tahu

Tak hanya itu, detail-detail kecil juga tak terlewatkan. Sehingga penonton yang sebelumnya telah membaca thread, dipastikan merasa bahwa isi cerita sama dengan film.

Hanya saja karena kesamaan itulah, penonton yang berharap akan ada “kejutan” dari film ini, bakal kecewa. Sebab, sutradara memang memvisualisasikan cerita yang sudah tersebar, tanpa menambahkan fakta lain.

Selain itu, tingkat horor dari film ini juga standart. Cocok untuk bolo warmo yang ingin menonton film horor, tapi masih ingin menghayati jalannya cerita. Apalagi banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini.

So, bolo warmo sudah nonton belum? (may/ono)