Cerita Sopir Sukses Budidaya Merpati Pos

232
“Itu berawal dari temen-temen saya yang jadi sopir, nunjukin kalau punya merpati bisa pulang ke kandang masing-masing. Bahkan, itu dari luar pulau bisa pulang. Nah dari situ saya tertarik untuk belajar merawat hingga membudidayakan merpati pos ini.”

Laporan : Akhmad Romadoni

SEPERTI inilah kondisi kandang burung milik Hendra Febrianto, pria asal Jalan Wiroguno No 7A, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan yang banyak diisi dengan burung merpati. Burung itu adalah merpati yang mempunyai daya ingat cukup tinggi.

Burung merpati pos adalah burung merpati yang telah dilatih untuk mengantarkan surat atau pesan kepada suatu pihak. Pada zaman kolonial Belanda, merpati ini disebut bisa mengantarkan surat para pejabat di masanya.

“Pahlawan, jadi ketika perang dulu tidak ada komunikasi. Nah lewat merpati itu bisa memberi kabar,” kata Hendra saat ditemui di kandang burung merpati di rumahnya, Rabu (20/7/2022) lalu.

Kesenangannya pada burung tersebut Ia dapatkan saat menjadi sopir mantan anggota dewan. Dulu, Ia sangat tertarik ketika melihat kawan sesama sopir yang banyak memiliki burung dengan daya ingat tinggi.

Baca Juga :   Jaring Ikan, Warga Wonorejo Tenggelam di Sungai

“Itu berawal dari temen-temen saya yang jadi sopir, nunjukin kalau punya merpati bisa pulang ke kandang masing-masing. Bahkan, itu dari luar pulau bisa pulang. Nah dari situ saya tertarik untuk belajar merawat hingga membudidayakan merpati pos ini,” lanjutnya saat memberi makan burung tersebut.

Alhasil, saat ini Hendra telah memiliki banyak merpati pos. Tak ayal, Ia juga mengembangkan hobinya itu untuk bisa menghasilkan uang.

Yakni dengan cara membudidayakan burung merpati pos dari indukan yang sudah mempunyai nama besar di kalangan pecinta burung tersebut. Di rumahnya, sudah ada sejumlah anakan burung merpati yang siap dijual.

“Jadi jualnya itu anak dari indukannya. Namanya juga merpati pos, tak banyak perawatan jika burung sudah besar. Tergantung ‘trah’ (indukan) yang budidayakan,” ujarnya.

Untuk penjualan anakan burung merpati pos miliknya itu, dihargai mulai dari Rp500 ribu – Rp750 ribu tergantung indukannya.

Hendro yang juga menjadi sopir anggota partai di Kota Pasuruan itu mengatakan, terkadang Ia juga mencari telur burung tersebut dari beberapa teman pecinta merpati pos.

Baca Juga :   Besok KPU Kota Pasuruan Buka Pendaftaran Pasangan Calon Walikota 2020

“Saya biasanya juga beli telur untuk dibudidayakan, harga satunya bisa Rp200 ribu perbiji telur,” tandasnya.

Kecintaannya terhadap “odong-odong” atau nama burung merpati racing pos miliknya itu membuat ia banyak mengikuti lomba tingkat Nasional. Mulai dari Surabaya, Mojokerto, Jakarta, NTB, Kalimatan hingga daerah lainnya.

Tata cara mengikuti lomba tersebut juga terbilang mudah. Para peserta dianjurkan untuk memiliki aplikasi yang nantinya digunakan mendaftar kompetisi burung merpati pos.

Setelah mendaftar, para peserta dari penjuru Indonesia akan mendapat kode yang nantinya ditempelkan ke pos atau kandang masing-masing.

“Dapat kode ditempelkan di pos masing-masing, setelah itu difoto dimasukkan aplikasi biar juri tahu. Satu kode lagi juga akan diikat di kaki burung tersebut,” jelasnya.

Setelah melalui proses pendaftaran, burung tersebut akan dibawa dimana lomba itu digelar. Misalnya saja di NTB, burung tersebut akan dibawa oleh tim atau club dari daerah masing-masing.

Baca Juga :   Atap MIN Gununggangsir Ambruk, Gus Mujib Minta Segera Ada Perbaikan

“Seru sekali, itu ada ribuan dilepas bareng-bareng,” katana pria yang memiliki dua anak itu.

Suka duka merawat atau membudidayakan burung tersebut juga banyak. Seperti saat burung miliknya berhasil pulang rumah atau pos kandang miliknya.

“Allah, itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, seneng banget. Kan burung itu dilepas dari jarak ratusan kilo tapi bisa pulang dengan selamat,” katanya.

Rasa sedih juga pernah Ia rasakan saat mengikuti lomba jarak jauh. Burung miliknya tak berhasil pulang ke pos.

“Bayangkan saja, jarak jauhnya segitu, burung kan bisa ditembak, atau kena apa di langit kan gak mesti. Burung saya juga pernah ditabrak “alap-alap” (burung elang kecil), lehernya itu hampir patah, tapi untung bisa kembali ke pos,” katanya.

Hendra berharap agar seluruh pecinta burung merpati pos di seluruh Indonesia agar tetap guyup rukun. Hal itu dilakukan agar kelestarian burung merpati pos tetap terjaga hingga anak cucu kita nanti. (may)